Back to 1
Author @mujirin Verifier - Public Public AI enabled
Log in to access more pages. Guests can read through the introduction. Explorer continues through Chapter 3.
Log in

Pendahuluan

Kita sering bertemu kalimat yang terdengar meyakinkan.

“Produk ini dipakai banyak orang, jadi pasti terbaik.”

“Dia pernah salah sekali, maka pendapatnya sekarang tidak perlu didengar.”

“Nilai ujian Budi naik setelah ikut les itu, berarti les itu pasti penyebabnya.”

“Kalau kita mengizinkan satu hal kecil ini, nanti semuanya akan kacau.”

Kalimat-kalimat seperti itu tidak selalu salah. Kadang kesimpulannya memang benar. Tetapi pertanyaan utama buku ini bukan hanya “apakah kesimpulannya benar?” Pertanyaan yang lebih tajam adalah:

Apakah kesimpulan itu benar-benar mengikuti dari alasan yang diberikan?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat kuat. Ia membantu kita membedakan antara argumen yang tampak meyakinkan dan argumen yang memang memiliki hubungan penalaran yang baik.

Dalam logika, sebuah argumen bukan berarti pertengkaran. Argumen adalah susunan beberapa pernyataan: sebagian dipakai sebagai alasan, dan satu pernyataan lain diajukan sebagai hal yang didukung oleh alasan itu. Dalam banyak buku logika, alasan-alasan ini disebut premis, sedangkan pernyataan yang didukung disebut kesimpulan (Copi, Cohen, & McMahon, 2014). Jadi, ketika seseorang berkata, “Karena A dan B, maka C,” ia sedang memberi argumen: A dan B adalah premis, C adalah kesimpulan.

Perhatikan contoh sederhana ini.

Semua burung gagak adalah burung.
Raka melihat seekor burung gagak.
Jadi, Raka melihat seekor burung.

Di sini, dua kalimat pertama menjadi alasan. Kalimat terakhir adalah kesimpulan. Jika dua premis itu benar, kesimpulannya tidak bisa salah. Hubungannya kuat sekali. Kesimpulan benar-benar mengikuti dari premis.

Sekarang bandingkan dengan contoh ini.

Semua burung gagak adalah burung.
Raka melihat seekor burung.
Jadi, Raka melihat seekor burung gagak.

Argumen ini terdengar mirip, tetapi berbeda. Premisnya bisa benar: burung gagak memang burung, dan Raka memang melihat seekor burung. Namun kesimpulannya belum tentu benar, sebab burung yang dilihat Raka bisa saja merpati, ayam, atau elang. Di sini, kesimpulan tidak mengikuti dengan pasti dari premis.

Perbedaan kecil seperti ini adalah inti dari buku ini.

Mengapa kita perlu belajar menilai argumen?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang menerima informasi dalam bentuk yang rapi. Kita mendengar berita, iklan, nasihat, komentar media sosial, pendapat teman, pidato tokoh publik, atau penjelasan guru. Sebagian informasi itu disertai alasan. Sebagian hanya diberi gaya bahasa yang kuat. Sebagian memakai data, tetapi datanya belum tentu relevan. Sebagian lain menyentuh emosi sehingga terasa benar sebelum sempat kita periksa.

Manusia memang sering memakai cara berpikir cepat untuk mengambil keputusan. Cara berpikir cepat ini berguna dalam banyak keadaan, tetapi juga dapat membuat kita menerima kesan pertama tanpa memeriksa alasan dengan teliti; pembahasan populer tentang perbedaan antara pemikiran cepat dan lambat dapat ditemukan dalam karya Daniel Kahneman (Kahneman, 2011). Karena itu, belajar logika bukan berarti menjadi manusia yang dingin atau selalu curiga. Belajar logika berarti memberi diri kita alat untuk berhenti sebentar dan bertanya:

“Alasannya apa?”

“Apakah alasan itu benar?”

“Kalau alasan itu benar, apakah kesimpulannya memang mengikuti?”

“Adakah kemungkinan lain?”

Pertanyaan-pertanyaan ini membuat kita lebih sulit ditipu oleh kata-kata yang indah tetapi kosong. Ia juga membuat kita lebih adil saat menilai pendapat orang lain. Kita tidak langsung menerima karena suka, dan tidak langsung menolak karena tidak suka. Kita memeriksa struktur penalarannya.

Argumen bukan sekadar pendapat

Sebelum masuk lebih jauh, kita perlu membedakan pendapat dan argumen.

Pendapat adalah klaim atau sikap tentang sesuatu.

“Film itu bagus.”

Kalimat ini menyatakan pendapat. Namun belum ada alasan yang diberikan. Jika seseorang menambahkan alasan, barulah kita mulai melihat argumen.

“Film itu bagus karena ceritanya jelas, aktingnya meyakinkan, dan konflik utamanya diselesaikan dengan rapi.”

Sekarang ada kesimpulan: “Film itu bagus.” Ada juga premis: “ceritanya jelas,” “aktingnya meyakinkan,” dan “konflik utamanya diselesaikan dengan rapi.”

Apakah argumen itu otomatis benar? Belum tentu. Kita masih bisa bertanya: Apakah ceritanya memang jelas? Apakah aktingnya benar-benar meyakinkan? Apakah kriteria itu cukup untuk menyimpulkan bahwa filmnya bagus? Namun setidaknya sekarang ada bahan untuk diperiksa.

Inilah salah satu kebiasaan penting dalam buku ini: jangan hanya bertanya, “Saya setuju atau tidak?” Tanyakan juga, “Apa premisnya? Apa kesimpulannya? Bagaimana hubungan di antara keduanya?”

Kebenaran premis dan hubungan penalaran

Sebuah argumen memiliki dua sisi penting.

Pertama, kita menilai apakah premisnya benar atau dapat dipercaya.

Kedua, kita menilai apakah kesimpulannya mengikuti dari premis.

Dua hal ini berbeda.

Lihat contoh berikut.

Jakarta adalah ibu kota Indonesia.
Jadi, 2 + 2 = 4.

Premisnya benar. Kesimpulannya juga benar. Tetapi argumennya buruk, karena premis tidak memberi alasan untuk kesimpulan. Fakta tentang Jakarta tidak membuat pernyataan “2 + 2 = 4” menjadi benar. Kesimpulannya benar, tetapi tidak mengikuti dari alasan yang diberikan.

Sebaliknya, perhatikan contoh ini.

Semua ikan hidup di darat.
Paus adalah ikan.
Jadi, paus hidup di darat.

Argumen ini memiliki bentuk penalaran yang rapi: jika semua ikan hidup di darat, dan paus adalah ikan, maka paus hidup di darat. Tetapi premisnya salah. Paus bukan ikan, melainkan mamalia laut; dan ikan pun tidak semuanya hidup di darat. Jadi bentuk hubungannya bisa tampak kuat, tetapi isi premisnya bermasalah.

Dari sini kita belajar bahwa argumen yang baik membutuhkan lebih dari satu hal. Kita perlu memeriksa kebenaran atau kelayakan premis, dan juga kekuatan hubungan antara premis dan kesimpulan. Buku-buku logika standar membedakan penilaian terhadap kebenaran premis dari penilaian terhadap bentuk atau kekuatan inferensi, yaitu langkah dari premis menuju kesimpulan (Copi, Cohen, & McMahon, 2014).

Kata inferensi berarti proses menarik kesimpulan dari alasan. Jika seseorang berkata, “Langit gelap dan angin kencang, jadi mungkin akan hujan,” ia sedang membuat inferensi dari tanda-tanda cuaca menuju kesimpulan tentang hujan.

Deduksi: ketika kesimpulan seharusnya pasti

Salah satu jenis penalaran yang akan kita pelajari adalah deduksi. Dalam argumen deduktif, premis dimaksudkan untuk menjamin kesimpulan. Artinya, jika premis benar, kesimpulan tidak mungkin salah. Hubungan seperti ini disebut validitas. Secara klasik, argumen deduktif valid bila tidak mungkin semua premisnya benar sementara kesimpulannya salah (Copi, Cohen, & McMahon, 2014).

Contoh:

Jika listrik padam, lampu ruangan mati.
Listrik padam.
Jadi, lampu ruangan mati.

Bila dua premis itu benar, kesimpulannya harus benar. Ini contoh pola deduktif yang kuat.

Tetapi perhatikan bentuk yang mirip ini.

Jika listrik padam, lampu ruangan mati.
Lampu ruangan mati.
Jadi, listrik padam.

Kesimpulan itu mungkin benar, tetapi tidak pasti. Lampu ruangan bisa mati karena bohlam rusak, sakelar dimatikan, atau kabel bermasalah. Jadi, dari “lampu mati” kita belum boleh menyimpulkan dengan pasti bahwa listrik padam.

Dalam buku ini, kita akan belajar melihat perbedaan seperti itu dengan lebih tenang. Tujuannya bukan menghafal istilah, melainkan mampu melihat kapan sebuah kesimpulan benar-benar dijamin oleh alasan.

Induksi: ketika kesimpulan mungkin, bukan pasti

Tidak semua argumen bertujuan memberi kepastian. Banyak penalaran sehari-hari bersifat induktif. Dalam induksi, premis memberi dukungan bagi kesimpulan, tetapi tidak menjamin kesimpulan secara mutlak. Kesimpulan menjadi mungkin, masuk akal, atau sangat mungkin, tergantung kualitas buktinya. Pembahasan logika praktis sering membedakan argumen deduktif yang dinilai dari validitasnya dan argumen induktif yang dinilai dari kekuatan dukungannya (Govier, 2014).

Contoh:

Selama seminggu terakhir, bus nomor 12 selalu terlambat lebih dari 20 menit.
Hari ini hujan deras, dan biasanya lalu lintas lebih lambat saat hujan.
Jadi, bus nomor 12 kemungkinan akan terlambat hari ini.

Kesimpulannya tidak pasti. Bisa saja hari ini bus datang tepat waktu. Tetapi premisnya memberi alasan yang cukup masuk akal untuk memperkirakan keterlambatan.

Argumen induktif perlu dinilai dengan pertanyaan seperti:

Apakah contohnya cukup banyak?

Apakah datanya beragam?

Apakah buktinya relevan?

Apakah ada penjelasan lain?

Misalnya, jika seseorang berkata:

Saya pernah membeli satu pulpen merek X dan pulpennya rusak.
Jadi, semua pulpen merek X buruk.

Ini induksi yang lemah. Satu contoh terlalu sedikit untuk menyimpulkan “semua.” Mungkin pulpen itu rusak karena kebetulan, salah penyimpanan, atau satu produk cacat. Nanti kita akan belajar menyebut masalah seperti ini sebagai generalisasi tergesa-gesa, yaitu menarik kesimpulan umum dari bukti yang terlalu sedikit atau tidak mewakili.

Contoh tandingan: alat kecil yang sangat kuat

Salah satu alat paling penting dalam buku ini adalah contoh tandingan. Contoh tandingan adalah contoh yang menunjukkan bahwa sebuah kesimpulan tidak selalu mengikuti dari premis.

Misalnya ada argumen:

Semua siswa rajin membawa buku.
Dina membawa buku.
Jadi, Dina siswa rajin.

Untuk menguji argumen ini, kita bertanya: “Bisakah premisnya benar, tetapi kesimpulannya salah?”

Bisa. Bayangkan Dina membawa buku karena diminta mengembalikannya ke perpustakaan, tetapi ia bukan siswa rajin. Atau Dina membawa buku, tetapi ia jarang belajar. Situasi seperti itu menjadi contoh tandingan. Ia menunjukkan bahwa dari “Dina membawa buku” kita belum boleh menyimpulkan “Dina siswa rajin.”

Contoh tandingan membantu kita memisahkan rasa meyakinkan dari hubungan logis. Jika kita dapat membayangkan keadaan yang membuat premis benar tetapi kesimpulan salah, maka argumen deduktif itu tidak valid.

Kesalahan penalaran: bukan sekadar nama-nama Latin

Dalam buku ini kita juga akan mempelajari kesalahan penalaran, atau sering disebut fallacy. Kesalahan penalaran adalah pola berpikir yang tampak mendukung kesimpulan, tetapi sebenarnya dukungannya lemah, tidak relevan, atau menyesatkan. Kajian argumen praktis banyak membahas kekeliruan seperti menyerang pribadi, membuat pilihan palsu, atau memutarbalikkan posisi lawan karena pola-pola ini sering muncul dalam perdebatan sehari-hari (Govier, 2014).

Contoh sederhana:

Jangan dengarkan pendapat Rina tentang kebersihan sekolah. Nilai matematikanya saja jelek.

Ini menyerang pribadi Rina, bukan menilai alasan Rina tentang kebersihan sekolah. Nilai matematika mungkin tidak relevan dengan apakah pendapatnya tentang kebersihan benar atau salah. Kesalahan seperti ini sering disebut ad hominem, yaitu menolak klaim dengan menyerang orangnya, bukan argumennya.

Namun tujuan buku ini bukan membuat Anda menghafal daftar kesalahan penalaran seperti menghafal nama penyakit. Tujuannya adalah agar Anda dapat melihat pertanyaan dasarnya:

“Apakah alasan yang diberikan relevan?”

“Apakah ada lompatan dari premis ke kesimpulan?”

“Apakah kata-katanya membuat saya merasa yakin, padahal bukti dan hubungannya lemah?”

Dengan begitu, istilah seperti ad hominem, straw man, atau false dilemma menjadi alat bantu, bukan sekadar label untuk menyerang lawan bicara.

Sikap yang dibutuhkan: teliti, adil, dan berani ragu

Belajar menilai argumen memerlukan sikap tertentu.

Kita perlu teliti, karena satu kata kecil dapat mengubah struktur argumen. “Jika,” “hanya jika,” “semua,” “sebagian,” “mungkin,” dan “pasti” tidak boleh diperlakukan seolah-olah sama.

Kita perlu adil, karena argumen yang datang dari orang yang tidak kita sukai tetap bisa benar, dan argumen dari orang yang kita sukai tetap bisa lemah.

Kita juga perlu berani ragu, tetapi bukan ragu yang kosong. Ragu yang baik bukan sekadar berkata, “Saya tidak percaya.” Ragu yang baik bertanya, “Apa alasannya? Apakah buktinya cukup? Apakah ada kemungkinan lain? Apakah kesimpulannya mengikuti?”

Buku ini akan memandu Anda dari langkah paling dasar. Kita akan mulai dengan mengenali apa itu argumen, lalu mencari premis dan kesimpulan. Setelah itu, kita akan belajar menyusun argumen dalam bentuk yang jelas, membedakan kebenaran premis dari kekuatan hubungan, memahami validitas deduktif, memakai contoh tandingan, menilai induksi, memeriksa analogi, menilai sebab-akibat, menemukan premis tersembunyi, mengenali bahasa yang menipu pikiran, dan akhirnya menyusun argumen sendiri dengan lebih rapi.

Jika semua itu terdengar banyak, jangan khawatir. Kita akan berjalan pelan. Setiap istilah akan dijelaskan dari awal. Setiap pola akan diberi contoh. Yang penting bukan cepat selesai, melainkan terbiasa bertanya dengan jelas.

Pada akhirnya, kemampuan menilai argumen bukan hanya berguna untuk pelajaran logika. Ia berguna saat membaca berita, menonton iklan, mendengar janji, berdiskusi, memilih tindakan, dan memeriksa pikiran sendiri.

Pertanyaan utama kita akan terus sama:

Apakah kesimpulan itu mengikuti?

References

Copi, I. M., Cohen, C., & McMahon, K. (2014). Introduction to Logic (14th ed.). Pearson.

Govier, T. (2014). A Practical Study of Argument (7th ed.). Wadsworth Cengage Learning.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.

τ TheoryTrace