Pendahuluan
Internet membuat belajar terasa sangat mudah dimulai. Ketik satu kata kunci, buka video, simpan artikel, ikuti kursus gratis, masuk komunitas, lalu dalam beberapa menit kita sudah merasa berada di jalur belajar. Namun banyak orang mengalami pola yang sama: semangat di awal, berpindah sumber setelah beberapa hari, menemukan topik baru yang terlihat lebih menarik, lalu akhirnya tidak merasa benar-benar menguasai apa pun.
Buku ini ditulis untuk masalah itu.
Masalah utamanya bukan karena Anda malas, tidak berbakat, atau “tidak cocok belajar mandiri”. Sering kali masalahnya lebih sederhana: Anda belum memiliki kurikulum pribadi. Yang dimaksud dengan kurikulum pribadi adalah rancangan belajar yang Anda susun untuk diri sendiri: apa yang ingin dikuasai, dari mana belajarnya, urutannya bagaimana, latihan apa yang harus dikerjakan, kapan meminta umpan balik, proyek apa yang menjadi bukti kemampuan, dan standar apa yang membuat Anda berani berkata, “Untuk tahap ini, saya sudah lulus.”
Di sekolah, kurikulum biasanya disiapkan oleh lembaga. Ada mata pelajaran, urutan bab, tugas, ujian, dan nilai. Dalam belajar mandiri dari internet, semua itu sering hilang. Anda memang punya kebebasan, tetapi kebebasan tanpa struktur mudah berubah menjadi kebingungan. Penelitian tentang belajar mandiri sering menekankan pentingnya kemampuan mengatur diri: menetapkan tujuan, memantau kemajuan, dan menilai hasil belajar sendiri (Zimmerman, 2002). Buku ini membantu Anda melakukan hal itu secara praktis, langkah demi langkah.
Bayangkan seseorang ingin belajar desain grafis. Ia menonton video tentang logo pada hari pertama, lalu berpindah ke teori warna, lalu ke desain poster, lalu ke animasi, lalu ke UI/UX, lalu kembali lagi ke logo. Semua materi itu mungkin bagus. Tetapi karena tidak ada batas, urutan, latihan, dan kriteria selesai, belajarnya terasa seperti berjalan di toko buku besar tanpa daftar belanja. Banyak yang menarik, tetapi tidak ada yang benar-benar dibawa pulang.
Kurikulum pribadi berfungsi seperti daftar belanja dan peta perjalanan. Ia tidak menghapus kebebasan Anda. Justru ia membuat kebebasan itu lebih berguna.
Mengapa niat saja tidak cukup
Niat adalah bahan bakar awal. Tetapi belajar yang tuntas membutuhkan lebih dari niat. Anda perlu tujuan yang jelas, latihan yang sesuai, umpan balik, dan kesempatan menerapkan pengetahuan. Dalam ilmu pembelajaran, salah satu gagasan penting adalah bahwa kemahiran berkembang melalui latihan yang diarahkan pada tujuan tertentu, disertai umpan balik yang membantu memperbaiki kesalahan (Ambrose et al., 2010). Artinya, belajar bukan hanya memasukkan informasi ke kepala, tetapi mengubah cara Anda berpikir dan bertindak melalui percobaan berulang.
Contohnya, jika Anda ingin belajar menulis artikel, menonton sepuluh video tentang “cara menulis yang baik” belum tentu membuat Anda mampu menulis artikel. Anda perlu menulis paragraf, membandingkan hasilnya dengan contoh yang baik, menerima koreksi, memperbaiki kalimat, lalu menulis lagi. Pengetahuan menjadi keterampilan ketika digunakan.
Hal yang sama berlaku untuk bidang lain. Belajar pemrograman perlu menulis program. Belajar bahasa Inggris perlu membaca, mendengar, berbicara, dan menulis. Belajar matematika perlu mengerjakan soal dan menjelaskan alasan. Belajar fotografi perlu mengambil foto, menilai hasilnya, dan memperbaiki pengaturan kamera atau komposisi. Jika belajar hanya berhenti pada menonton, membaca, dan mengumpulkan tautan, kemajuan sering terasa samar.
Di sinilah buku ini mengambil posisi: kita akan mengubah belajar dari kegiatan yang kabur menjadi proses yang bisa dilihat, dilakukan, diperiksa, dan diselesaikan.
Apa yang dimaksud dengan “menguasai”?
Sebelum menyusun kurikulum, kita perlu berhati-hati dengan kata menguasai. Kata ini sering terdengar besar dan menakutkan. Untuk pemula, menguasai tidak berarti mengetahui semua hal dalam suatu bidang. Menguasai berarti mampu melakukan sesuatu sesuai standar yang telah ditentukan untuk tahap tertentu.
Misalnya, “menguasai Excel” terlalu luas. Excel dapat dipakai untuk mencatat keuangan, menganalisis data, membuat dashboard, mengolah laporan bisnis, dan banyak lagi. Untuk pemula, tujuan yang lebih jelas adalah:
Saya mampu membuat tabel pengeluaran bulanan, memakai rumus dasar seperti SUM dan AVERAGE, mengurutkan data, membuat grafik sederhana, dan menjelaskan hasilnya kepada orang lain.
Tujuan seperti ini lebih mudah dipelajari karena hasil akhirnya dapat diamati. Kita bisa melihat apakah tabelnya jadi, apakah rumusnya benar, apakah grafiknya sesuai, dan apakah penjelasannya masuk akal.
Dalam buku ini, hasil akhir seperti itu disebut kompetensi akhir. Kompetensi adalah kemampuan melakukan sesuatu dengan pengetahuan, keterampilan, dan pertimbangan yang sesuai. “Mengetahui definisi grafik” adalah pengetahuan. “Membuat grafik yang benar dari data” adalah keterampilan. “Memilih jenis grafik yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan” adalah pertimbangan. Kompetensi biasanya menggabungkan ketiganya.
Kompetensi akhir penting karena ia menjadi arah. Tanpa kompetensi akhir, Anda mudah tergoda oleh materi apa pun yang terlihat menarik. Dengan kompetensi akhir, Anda bisa bertanya, “Apakah sumber ini membantu saya mencapai kemampuan yang saya targetkan?” Jika tidak, sumber itu mungkin baik, tetapi belum tentu perlu dipelajari sekarang.
Internet sebagai perpustakaan, bukan kurikulum
Internet adalah sumber belajar yang luar biasa. Ada dokumentasi resmi, kuliah terbuka, artikel, forum diskusi, video, latihan interaktif, buku digital, dan komunitas. Tetapi internet tidak otomatis menyusun semuanya menjadi jalur belajar yang cocok untuk Anda.
Satu video mungkin bagus, tetapi terlalu lanjut. Satu artikel mungkin jelas, tetapi hanya membahas sebagian kecil. Satu kursus mungkin lengkap, tetapi terlalu panjang untuk kebutuhan Anda. Satu komunitas mungkin ramai, tetapi jawabannya bercampur antara yang tepat, kurang tepat, dan terlalu rumit untuk pemula.
Karena itu, dalam buku ini kita akan membedakan sumber belajar dan kurikulum. Sumber belajar adalah bahan: video, artikel, buku, latihan, dokumentasi, kursus, atau forum. Kurikulum adalah susunan yang memberi arah pada bahan itu. Analogi sederhananya: bahan makanan belum tentu menjadi makan malam. Anda masih perlu resep, urutan memasak, ukuran, dan cara mengecek apakah masakannya matang.
Begitu juga dalam belajar. Mengumpulkan banyak tautan belum sama dengan belajar. Menyimpan kursus belum sama dengan menyelesaikan kursus. Menonton pembahasan soal belum sama dengan mampu mengerjakan soal sendiri. Buku ini akan membantu Anda memilih sumber secukupnya, menaruhnya dalam urutan yang masuk akal, lalu mengubahnya menjadi aktivitas belajar.
Belajar aktif: inti dari kurikulum pribadi
Salah satu perubahan penting yang akan kita latih adalah berpindah dari belajar pasif ke belajar aktif. Belajar pasif berarti menerima informasi tanpa banyak mengolahnya, misalnya menonton video sambil merasa paham tetapi tidak mencoba menjawab, mempraktikkan, atau menjelaskan ulang. Belajar aktif berarti Anda ikut bekerja: bertanya, menebak, mencoba, mengerjakan latihan, membuat contoh, dan memeriksa kesalahan.
Penelitian tentang teknik belajar menunjukkan bahwa menguji diri sendiri dan latihan mengingat kembali informasi dari memori dapat membantu pembelajaran dibandingkan hanya membaca ulang secara pasif, terutama bila dilakukan dengan cara yang sesuai dengan materi dan tujuan belajar (Dunlosky et al., 2013). Dalam bahasa sederhana, otak tidak hanya perlu melihat jawaban; ia perlu berlatih mengambil jawaban.
Contohnya, setelah menonton video tentang fungsi dalam pemrograman, jangan langsung membuka video berikutnya. Tutup videonya, lalu jawab:
Apa itu fungsi? Mengapa fungsi dipakai? Bisakah saya menulis satu fungsi sederhana tanpa melihat contoh?
Jika Anda tidak bisa menjawab, itu bukan kegagalan. Itu informasi. Anda baru saja menemukan bagian yang perlu dipelajari ulang atau dilatih. Kurikulum pribadi yang baik menyediakan ruang untuk momen seperti ini.
Tuntas bukan berarti sempurna
Banyak pembelajar mandiri berhenti bukan karena tidak mampu, tetapi karena standar mereka terlalu kabur atau terlalu sempurna. Jika standar terlalu kabur, Anda tidak tahu kapan boleh lanjut. Jika standar terlalu sempurna, Anda tidak pernah merasa cukup.
Buku ini memakai gagasan tuntas secara bertahap. Artinya, setiap tahap belajar memiliki tanda selesai yang realistis. Untuk pemula, tanda selesai bukan “saya paham semua hal”, melainkan “saya sudah mampu melakukan tugas inti tahap ini dengan kesalahan yang masih wajar dan dapat diperbaiki.”
Misalnya, dalam belajar bahasa Inggris, tahap awal mungkin dianggap tuntas jika Anda mampu memperkenalkan diri, menjelaskan rutinitas harian, memahami instruksi sederhana, dan menulis paragraf pendek dengan bantuan kamus. Itu belum berarti Anda fasih. Tetapi itu berarti Anda memiliki fondasi untuk tahap berikutnya.
Dalam belajar data, tahap awal mungkin dianggap tuntas jika Anda mampu membuka file spreadsheet, membersihkan kesalahan sederhana, menghitung ringkasan, membuat grafik dasar, dan menjelaskan temuan utama. Itu belum menjadikan Anda analis data profesional. Tetapi itu cukup untuk naik ke tahap berikutnya.
Dengan cara ini, belajar menjadi lebih manusiawi. Anda tidak perlu menunggu sempurna untuk maju. Anda hanya perlu memiliki bukti yang cukup bahwa fondasi sebelumnya sudah kuat.
Buku ini akan membawa Anda ke mana?
Buku ini disusun sebagai perjalanan dari kebingungan menuju rancangan belajar yang siap dijalankan. Pada awalnya, kita akan melihat mengapa kita mudah berpindah materi. Ini penting karena kebiasaan melompat-lompat sering memiliki penyebab yang dapat dikenali: terlalu banyak pilihan, tujuan kabur, urutan tidak jelas, latihan kurang, dan tidak ada standar selesai. Penelitian tentang pilihan juga menunjukkan bahwa dalam beberapa situasi, terlalu banyak pilihan dapat membuat orang lebih sulit mengambil keputusan dan merasa kurang puas dengan pilihannya (Iyengar & Lepper, 2000). Dalam belajar dari internet, ini sering terasa sebagai “semua materi terlihat penting”.
Setelah itu, kita akan belajar membatasi bidang. Membatasi bukan berarti mengecilkan mimpi. Membatasi berarti memilih medan latihan yang cukup jelas agar Anda bisa maju. Jika Anda ingin belajar pemrograman, mungkin tahap pertama bukan “menjadi software engineer”, tetapi “membuat tiga program Python sederhana untuk mengolah teks dan angka”. Jika Anda ingin belajar fotografi, mungkin tahap pertama bukan “menjadi fotografer profesional”, tetapi “memahami exposure dasar dan menghasilkan sepuluh foto yang terang, fokus, dan memiliki komposisi sederhana.”
Kemudian kita akan merumuskan kompetensi akhir, memecahnya menjadi subketerampilan, dan menilai posisi awal diri. Ini seperti menentukan tujuan perjalanan, memecahnya menjadi rute-rute kecil, lalu memeriksa dari mana Anda berangkat.
Sesudah itu, kita akan memilih sumber internet yang layak. Anda akan belajar membedakan sumber utama dan sumber pendukung. Sumber utama adalah bahan yang benar-benar Anda ikuti secara teratur. Sumber pendukung adalah bahan yang dipakai saat perlu penjelasan tambahan. Perbedaan ini penting karena banyak pembelajar pemula menjadikan semua sumber sebagai sumber utama, lalu kewalahan.
Bagian tengah buku akan membantu Anda menyusun urutan belajar dari dasar menuju proyek. Proyek adalah pekerjaan nyata yang menghasilkan sesuatu. Dalam konteks belajar, proyek menjadi bukti kemampuan. Jika Anda belajar menulis, proyeknya bisa berupa artikel lengkap. Jika Anda belajar desain, proyeknya bisa berupa poster atau identitas visual sederhana. Jika Anda belajar pemrograman, proyeknya bisa berupa aplikasi kecil. Proyek membuat belajar tidak berhenti pada teori.
Lalu kita akan membahas jadwal, latihan, umpan balik, catatan, dan peninjauan kurikulum. Semua ini diperlukan karena rencana belajar bukan benda mati. Rencana harus cukup kuat untuk memberi arah, tetapi cukup lentur untuk diperbaiki ketika Anda menemukan kenyataan baru.
Pada akhir buku, Anda akan diajak membuat kurikulum pribadi pertama Anda. Bukan kurikulum sempurna, tetapi kurikulum yang cukup jelas untuk dijalankan selama beberapa minggu. Tujuan buku ini bukan membuat Anda pandai menyusun dokumen belajar yang indah. Tujuannya adalah membantu Anda belajar sampai ada hasil yang nyata.
Cara berpikir yang akan kita pakai
Ada tiga cara berpikir sederhana yang akan berulang di sepanjang buku ini.
Pertama, mulai dari hasil. Tanyakan, “Kemampuan apa yang ingin saya miliki?” Bukan hanya “materi apa yang ingin saya tonton?” Misalnya, daripada berkata “Saya ingin belajar public speaking”, lebih baik berkata, “Saya ingin mampu menyampaikan presentasi lima menit dengan pembukaan jelas, tiga poin utama, dan penutup yang rapi.”
Kedua, pecah kemampuan besar menjadi bagian kecil. Kemampuan besar biasanya terasa menakutkan karena terlalu banyak unsur di dalamnya. Presentasi, misalnya, berisi penyusunan ide, pengaturan suara, bahasa tubuh, slide, latihan waktu, dan kemampuan menjawab pertanyaan. Jika dipisah, setiap bagian menjadi lebih mudah dilatih.
Ketiga, ukur dengan bukti. Bukti bisa berupa latihan yang selesai, jawaban yang benar, rekaman penjelasan, proyek kecil, catatan kesalahan yang berkurang, atau penilaian dari orang lain. Tanpa bukti, kita mudah tertipu oleh rasa akrab. Materi yang sering kita lihat bisa terasa sudah dikuasai, padahal belum tentu bisa kita gunakan sendiri.
Janji kecil kepada diri sendiri
Sebelum masuk ke Bab 1, buatlah janji kecil: selama membaca buku ini, jangan hanya mencari inspirasi. Gunakan buku ini untuk membuat keputusan.
Keputusan itu bisa sederhana:
Saya akan memilih satu bidang utama dulu.
Saya akan membatasi sumber utama maksimal dua.
Saya akan menentukan proyek akhir sebelum menonton terlalu banyak materi.
Saya akan menguji pemahaman dengan latihan, bukan hanya merasa paham.
Saya akan menetapkan kriteria lulus pribadi agar tahu kapan boleh lanjut.
Belajar mandiri bukan berarti belajar sendirian tanpa arah. Belajar mandiri berarti Anda mengambil peran sebagai perancang, pelaksana, dan penilai proses belajar Anda sendiri. Peran itu mungkin terasa baru, tetapi bisa dipelajari.
Mari kita mulai dari akar masalahnya: mengapa kita begitu mudah berpindah materi, dan bagaimana menghentikan pola itu tanpa mematikan rasa ingin tahu.
References
Ambrose, S. A., Bridges, M. W., DiPietro, M., Lovett, M. C., & Norman, M. K. (2010). How Learning Works: Seven Research-Based Principles for Smart Teaching. Jossey-Bass.
Dunlosky, J., Rawson, K. A., Marsh, E. J., Nathan, M. J., & Willingham, D. T. (2013). Improving students’ learning with effective learning techniques: Promising directions from cognitive and educational psychology. Psychological Science in the Public Interest, 14(1), 4–58. https://doi.org/10.1177/1529100612453266
Iyengar, S. S., & Lepper, M. R. (2000). When choice is demotivating: Can one desire too much of a good thing? Journal of Personality and Social Psychology, 79(6), 995–1006. https://doi.org/10.1037/0022-3514.79.6.995
Zimmerman, B. J. (2002). Becoming a self-regulated learner: An overview. Theory Into Practice, 41(2), 64–70.