Pendahuluan
Banyak tulisan dimulai dari kalimat yang terasa benar bagi penulisnya:
“Belajar kelompok itu lebih baik daripada belajar sendiri.”
Kalimat itu mungkin lahir dari pengalaman yang nyata. Mungkin penulis pernah lebih mudah memahami matematika setelah berdiskusi dengan teman. Mungkin suasana belajar kelompok terasa lebih menyenangkan. Namun, bagi pembaca yang belum mengalami hal yang sama, kalimat itu belum cukup. Pembaca masih dapat bertanya:
“Lebih baik dalam hal apa?”
“Untuk semua pelajaran?”
“Untuk semua siswa?”
“Apa buktinya?”
“Bagaimana jika belajar kelompok justru membuat sebagian siswa terdistraksi?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bukan tanda bahwa pembaca sedang mencari kesalahan semata. Dalam penulisan argumentatif, pertanyaan tersebut adalah jalan untuk membuat tulisan menjadi lebih kuat. Sebuah pendapat menjadi argumen ketika penulis tidak hanya menyatakan apa yang ia pikirkan, tetapi juga menunjukkan mengapa pikirannya layak dipertimbangkan.
Buku ini ditulis untuk membantu Anda melakukan perubahan itu: dari pendapat yang hanya dinyatakan menjadi argumen yang dapat diuji.
Mengapa pendapat saja belum cukup?
Pendapat adalah pandangan, penilaian, atau sikap seseorang terhadap suatu hal. Pendapat tidak selalu buruk. Justru banyak tulisan yang baik bermula dari pendapat. Ketika Anda merasa bahwa tugas sekolah terlalu banyak, transportasi umum perlu diperbaiki, media sosial punya dampak tertentu, atau kantin sekolah sebaiknya menyediakan makanan yang lebih sehat, Anda sedang memiliki bahan awal untuk menulis.
Namun, pendapat saja biasanya belum menjawab pertanyaan penting: mengapa pembaca perlu menerima pendapat itu?
Perhatikan contoh berikut.
“Sekolah sebaiknya mulai lebih siang.”
Kalimat ini menyatakan sikap. Tetapi pembaca belum tahu dasar pemikirannya. Apakah karena siswa mengantuk? Apakah karena perjalanan pagi terlalu macet? Apakah karena penelitian tentang tidur remaja? Apakah karena kegiatan sekolah terlalu padat? Tanpa alasan dan bukti, pembaca hanya melihat kesimpulan akhir, bukan jalan berpikir yang mengarah ke sana.
Sekarang bandingkan dengan versi berikut.
“Sekolah sebaiknya mempertimbangkan jam masuk yang sedikit lebih siang untuk siswa SMP dan SMA, karena banyak remaja mengalami kesulitan tidur cukup jika harus berangkat sangat pagi. Jika kebijakan ini diterapkan bersama pengaturan ulang jadwal pulang dan kegiatan ekstrakurikuler, siswa berpeluang datang ke sekolah dengan kondisi lebih siap belajar.”
Versi kedua belum tentu sempurna, tetapi sudah lebih dekat ke argumen. Ada klaim, ada alasan, ada batasan, dan ada kondisi. Pembaca dapat mengujinya: apakah benar banyak remaja kurang tidur? Apakah jam masuk lebih siang membantu? Apa dampaknya pada jadwal pulang? Apa keberatan dari orang tua atau sekolah?
Di sinilah inti buku ini: tulisan argumentatif yang baik bukan tulisan yang tidak bisa dibantah. Justru sebaliknya, tulisan yang baik membuka dirinya untuk diperiksa.
Apa yang dimaksud dengan argumen?
Dalam kehidupan sehari-hari, kata argumen kadang dipakai untuk menyebut pertengkaran. Misalnya, “Mereka sedang berargumen.” Dalam buku ini, arti kata argumen berbeda.
Argumen adalah susunan pikiran yang bertujuan membuat suatu klaim menjadi layak diterima. Argumen biasanya berisi klaim, alasan, bukti, dan penjelasan tentang hubungan di antara bagian-bagian itu. Dalam kajian argumentasi, Stephen Toulmin menjelaskan bahwa argumen tidak hanya terdiri atas kesimpulan dan data, tetapi juga membutuhkan unsur penghubung yang menjelaskan mengapa data tersebut mendukung klaim tertentu (Toulmin, 2003).
Mari kita gunakan contoh sederhana.
Klaim: Perpustakaan sekolah perlu menambah koleksi buku fiksi remaja.
Alasan: Buku fiksi remaja dapat menarik siswa yang belum terbiasa membaca buku panjang.
Bukti: Dalam satu survei kelas, sebagian besar siswa menyebut cerita fiksi sebagai jenis bacaan yang paling ingin mereka pinjam.
Penjelasan: Jika perpustakaan menyediakan bacaan yang sesuai minat awal siswa, peluang siswa untuk mulai membaca secara sukarela dapat meningkat.
Batasan: Namun, koleksi fiksi sebaiknya tetap dilengkapi buku nonfiksi agar pilihan bacaan tetap beragam.
Di sini, argumen tidak hanya berkata, “Saya suka buku fiksi.” Argumen mencoba menjawab kebutuhan pembaca: apa yang diusulkan, mengapa usulan itu masuk akal, bukti apa yang mendukungnya, dan dalam batas apa klaim itu berlaku.
“Dapat diuji” bukan berarti harus selalu seperti eksperimen laboratorium
Judul buku ini memakai ungkapan argumen yang dapat diuji. Ini penting, tetapi perlu dipahami dengan hati-hati.
Dalam pelajaran sains, pengujian sering berarti eksperimen, pengukuran, atau pengamatan sistematis. Dalam penulisan argumentatif, dapat diuji berarti pembaca dapat memeriksa kekuatan klaim dengan pertanyaan yang jelas. Misalnya:
“Apa bukti yang mendukung klaim ini?”
“Apakah bukti itu relevan?”
“Apakah ada contoh yang berlawanan?”
“Apakah alasan penulis benar-benar mengarah ke klaim?”
“Dalam situasi apa klaim ini tidak berlaku?”
“Keberatan apa yang paling masuk akal?”
Jadi, klaim seperti ini sulit diuji:
“Film itu paling bagus.”
Mengapa sulit? Karena kata “paling bagus” belum jelas ukurannya. Bagus dari sisi apa: alur cerita, akting, musik, pesan moral, efek visual, atau pengalaman pribadi penonton?
Klaim tersebut dapat dibuat lebih dapat diuji:
“Film itu memiliki alur yang lebih kuat daripada versi sebelumnya karena konflik utamanya diperkenalkan lebih awal, perkembangan tokohnya lebih jelas, dan akhir ceritanya menyelesaikan masalah utama tanpa terlalu banyak kebetulan.”
Sekarang pembaca dapat memeriksa bagian-bagiannya. Apakah konflik memang muncul lebih awal? Apakah perkembangan tokoh jelas? Apakah akhir cerita tidak bergantung pada kebetulan yang berlebihan? Klaimnya masih dapat diperdebatkan, tetapi sudah punya arah pengujian.
Dalam buku The Craft of Research, Booth, Colomb, Williams, Bizup, dan FitzGerald menekankan bahwa penulis perlu menghubungkan klaim dengan alasan dan bukti agar pembaca dapat melihat dasar kesimpulan penulis, bukan sekadar menerima pernyataan akhir (Booth et al., 2016). Prinsip ini akan menjadi salah satu kebiasaan utama dalam buku ini: setiap kali membuat klaim, kita bertanya, “Apa yang membuat klaim ini layak dipercaya?”
Empat bahan awal: klaim, alasan, bukti, dan penjelasan
Sebelum masuk ke bab-bab berikutnya, kita perlu mengenal empat istilah dasar.
Klaim adalah pernyataan utama yang ingin Anda pertahankan. Klaim menjawab pertanyaan, “Apa yang sebenarnya ingin saya katakan?” Contoh:
“Penggunaan ponsel di kelas sebaiknya dibatasi pada kegiatan belajar yang jelas.”
Klaim ini dapat diperdebatkan. Ada orang yang setuju, ada yang tidak. Karena itu, klaim membutuhkan dukungan.
Alasan adalah jawaban terhadap pertanyaan, “Mengapa klaim itu masuk akal?” Contoh:
“Karena ponsel dapat membantu pembelajaran, tetapi juga mudah mengalihkan perhatian jika tidak ada aturan.”
Alasan ini menjembatani klaim dengan pemikiran pembaca. Namun, alasan masih perlu diperkuat.
Bukti adalah informasi yang dapat diperiksa dan digunakan untuk mendukung alasan. Bukti dapat berupa data, contoh nyata, hasil pengamatan, kutipan ahli, hasil penelitian, perbandingan, atau dokumen. Contoh:
“Dalam pengamatan selama tiga pertemuan, siswa lebih sering membuka aplikasi di luar materi ketika guru tidak memberi instruksi penggunaan ponsel secara spesifik.”
Bukti ini tidak otomatis membuktikan semua hal tentang ponsel di kelas. Namun, bukti tersebut relevan untuk mendukung alasan bahwa aturan penggunaan diperlukan.
Penjelasan adalah bagian yang menunjukkan hubungan antara bukti dan klaim. Contoh:
“Pengamatan ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan semata-mata keberadaan ponsel, melainkan tidak jelasnya tujuan penggunaan. Karena itu, pembatasan yang terarah lebih masuk akal daripada larangan total.”
Bagian penjelasan sering dilupakan. Banyak tulisan menempelkan kutipan atau data, lalu langsung pindah ke kalimat berikutnya. Akibatnya, pembaca harus menebak sendiri mengapa bukti itu penting. Dalam tulisan argumentatif yang kuat, penulis tidak membiarkan pembaca menebak hubungan utama.
Argumen juga membutuhkan asumsi penghubung
Ada satu bagian yang sering tersembunyi: asumsi penghubung. Asumsi adalah gagasan yang dianggap benar oleh penulis, meskipun tidak selalu dinyatakan langsung. Asumsi penghubung membuat alasan terasa berhubungan dengan klaim.
Contoh:
Klaim: Sekolah perlu menambah ruang terbuka hijau.
Alasan: Banyak siswa merasa lebih nyaman belajar setelah beristirahat di tempat yang teduh.
Asumsi penghubung: Lingkungan istirahat yang nyaman dapat mendukung kesiapan siswa untuk kembali belajar.
Asumsi itu mungkin masuk akal, tetapi tetap perlu diperiksa. Apakah ruang terbuka hijau benar-benar digunakan siswa? Apakah semua siswa mendapat manfaat yang sama? Apakah ada masalah biaya dan perawatan? Dengan menemukan asumsi, kita dapat melihat bagian mana dari argumen yang perlu diperkuat.
Model argumentasi Toulmin memberi perhatian khusus pada hubungan antara data dan klaim melalui unsur yang sering disebut warrant, yaitu prinsip atau jembatan berpikir yang membuat bukti tampak mendukung klaim (Toulmin, 2003). Dalam buku ini, kita menyebutnya dengan istilah yang lebih mudah: asumsi penghubung.
Mengapa keberatan perlu disambut, bukan ditakuti?
Penulis pemula sering mengira bahwa argumen yang kuat harus terlihat selalu benar. Karena itu, mereka menghindari keberatan. Padahal, argumen yang tidak pernah menghadapi keberatan justru sering tampak rapuh.
Keberatan adalah pertanyaan, keraguan, atau sudut pandang lain yang dapat melemahkan klaim. Keberatan bukan musuh tulisan. Keberatan adalah alat uji.
Misalnya, klaim berikut tampak masuk akal:
“Tugas kelompok perlu lebih sering diberikan karena melatih kerja sama.”
Namun, pembaca dapat mengajukan keberatan:
“Bagaimana jika dalam tugas kelompok hanya satu orang yang bekerja?”
“Bagaimana cara menilai kontribusi setiap anggota?”
“Apakah semua materi cocok dikerjakan secara kelompok?”
Jika penulis mengabaikan keberatan ini, argumennya terasa terlalu sederhana. Tetapi jika penulis menanggapinya, tulisan menjadi lebih matang:
“Tugas kelompok memang dapat menimbulkan masalah pembagian kerja. Karena itu, tugas kelompok sebaiknya disertai pembagian peran, catatan kontribusi, dan penilaian individu agar manfaat kerja sama tidak berubah menjadi beban bagi sebagian siswa.”
Jawaban terhadap keberatan disebut sanggahan. Sanggahan bukan serangan terhadap orang yang berbeda pendapat. Sanggahan adalah respons terhadap masalah dalam argumen. Deanna Kuhn menunjukkan bahwa kemampuan berargumentasi melibatkan bukan hanya menyatakan pendapat sendiri, tetapi juga mempertimbangkan bukti, alternatif, dan posisi yang berlawanan (Kuhn, 1991). Karena itu, buku ini akan melatih Anda untuk menulis keberatan secara adil sebelum menjawabnya.
Kuat bukan berarti keras, yakin bukan berarti berlebihan
Dalam tulisan argumentatif, nada bahasa juga penting. Penulis yang terlalu ragu membuat pembaca sulit melihat posisinya. Namun, penulis yang terlalu berlebihan membuat klaimnya mudah diserang.
Bandingkan tiga kalimat berikut.
“Semua siswa pasti gagal fokus kalau membawa ponsel ke kelas.”
Kalimat ini terlalu mutlak. Satu contoh siswa yang tetap fokus sudah cukup untuk melemahkannya.
“Mungkin ponsel kadang-kadang bisa saja sedikit berpengaruh pada beberapa siswa.”
Kalimat ini terlalu kabur. Pembaca sulit mengetahui apa sebenarnya klaim penulis.
“Dalam banyak situasi belajar, ponsel dapat mengganggu fokus siswa jika penggunaannya tidak diarahkan oleh guru.”
Kalimat ketiga lebih kuat karena lebih akurat. Ia memakai pembatas: “dalam banyak situasi” dan “jika penggunaannya tidak diarahkan.” Pembatas seperti ini disebut kualifikasi. Kualifikasi membantu penulis menyatakan klaim dengan tegas tanpa melebih-lebihkan.
Dalam buku ini, Anda akan sering diajak mengganti klaim yang terlalu luas menjadi klaim yang lebih tepat. Tujuannya bukan melemahkan tulisan, melainkan membuatnya lebih sulit dipatahkan oleh contoh kecil yang sebenarnya tidak merusak inti argumen.
Perjalanan buku ini
Buku ini bergerak secara bertahap. Pertama, Anda akan membedakan pendapat, klaim, argumen, dan penjelasan. Setelah itu, Anda akan belajar menemukan klaim utama dan membuat pertanyaan penguji. Pertanyaan penguji ini penting karena penulis yang baik tidak menunggu pembaca menemukan kelemahan tulisannya; penulis yang baik memeriksa kelemahan itu lebih dulu.
Selanjutnya, Anda akan mempelajari alasan dan bukti. Anda akan melihat bahwa alasan yang terdengar meyakinkan belum tentu relevan, dan bukti yang tampak menarik belum tentu cukup kuat. Sebuah cerita pribadi, misalnya, dapat membantu menjelaskan pengalaman, tetapi tidak selalu cukup untuk membuktikan klaim umum tentang semua siswa. Sebaliknya, data angka dapat terlihat kuat, tetapi tetap perlu diperiksa sumber, konteks, dan cara menafsirkannya.
Setelah itu, buku ini membawa Anda ke bagian yang lebih dalam: hubungan antara bukti dan kesimpulan, asumsi penghubung, batas klaim, keberatan, dan sanggahan. Di bagian ini, Anda akan belajar bahwa argumen bukan sekadar tumpukan kalimat benar. Argumen adalah susunan yang harus saling menopang.
Bagian akhir buku membahas kekeliruan bernalar, paragraf argumentatif, urutan argumen, penggunaan sumber, gaya bahasa, revisi, rubrik, dan proyek akhir. Tujuannya sederhana: pada akhir buku, Anda tidak hanya tahu teori argumen, tetapi mampu memperbaiki tulisan sendiri.
Contoh perubahan dari pendapat ke argumen
Mari kita lihat satu contoh singkat.
Draf awal:
“Media sosial buruk untuk remaja.”
Kalimat ini terlalu luas. “Buruk” dalam hal apa? Untuk semua remaja? Semua media sosial? Dalam semua penggunaan?
Versi yang lebih dapat diuji:
“Penggunaan media sosial menjelang waktu tidur dapat mengganggu kebiasaan tidur sebagian remaja karena notifikasi, percakapan, dan arus konten yang terus berubah membuat mereka sulit berhenti menggunakan ponsel.”
Versi ini lebih baik karena memiliki batas: “menjelang waktu tidur” dan “sebagian remaja.” Klaimnya juga memiliki alasan: notifikasi, percakapan, dan arus konten membuat pengguna sulit berhenti.
Namun, argumen ini masih membutuhkan bukti. Misalnya:
“Dalam wawancara kecil di kelas, beberapa siswa mengatakan mereka sering menunda tidur karena masih membalas pesan atau menonton video pendek.”
Bukti ini berguna, tetapi masih terbatas. Penulis perlu menjelaskan keterbatasannya:
“Wawancara kecil ini tidak cukup untuk menyimpulkan keadaan semua remaja, tetapi dapat menunjukkan pola yang perlu diperhatikan di lingkungan kelas tersebut.”
Lalu penulis dapat menambahkan keberatan:
“Namun, media sosial tidak selalu berdampak buruk. Sebagian siswa menggunakannya untuk mencari informasi belajar, mengikuti komunitas hobi, atau berkomunikasi dengan keluarga.”
Kemudian sanggahan:
“Karena itu, masalah utama bukan keberadaan media sosial secara umum, melainkan kebiasaan penggunaan yang tidak dibatasi, terutama pada waktu yang seharusnya dipakai untuk tidur.”
Sekarang tulisan tidak lagi hanya berisi pendapat. Ia memiliki klaim yang lebih jelas, alasan, bukti awal, batasan, keberatan, dan sanggahan. Inilah arah latihan dalam buku ini.
Cara berpikir yang akan dilatih
Jika diringkas, buku ini melatih satu kebiasaan utama: jangan berhenti pada kesan pertama.
Ketika Anda menulis, “Ini penting,” lanjutkan dengan, “Penting bagi siapa, dalam hal apa, dan mengapa?”
Ketika Anda menulis, “Banyak orang,” lanjutkan dengan, “Banyak itu berapa, dari kelompok mana, dan bagaimana saya tahu?”
Ketika Anda menulis, “Hal ini menyebabkan,” lanjutkan dengan, “Apa bukti hubungan sebab-akibatnya, dan adakah faktor lain?”
Ketika Anda menulis, “Solusinya adalah,” lanjutkan dengan, “Apa risiko solusi ini, dan mengapa tetap layak dipertimbangkan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa memperlambat pada awalnya. Namun, semakin sering dilatih, semakin cepat Anda melihat bagian lemah dalam tulisan. Anda tidak lagi hanya bertanya, “Apakah tulisan saya panjang?” tetapi “Apakah tulisan saya jelas, beralasan, berbukti, adil, dan dapat diuji?”
Itulah tujuan buku ini.
Anda tidak diminta untuk selalu benar sejak draf pertama. Draf pertama sering kali masih berupa pendapat kasar. Yang penting adalah kemampuan untuk merevisinya. Dalam penulisan argumentatif, revisi bukan sekadar memperbaiki ejaan. Revisi adalah proses memperjelas pikiran.
Mulailah dengan satu klaim. Tanyakan apa alasannya. Cari bukti yang relevan. Jelaskan hubungan antara bukti dan klaim. Temukan asumsi tersembunyi. Beri batas yang jujur. Hadapi keberatan yang serius. Jawab dengan sanggahan yang masuk akal.
Dari situlah pendapat berubah menjadi argumen.
References
Booth, Wayne C., Gregory G. Colomb, Joseph M. Williams, Joseph Bizup, and William T. FitzGerald. The Craft of Research. 4th ed. Chicago: University of Chicago Press, 2016.
Kuhn, Deanna. The Skills of Argument. Cambridge: Cambridge University Press, 1991.
Toulmin, Stephen. The Uses of Argument. Updated ed. Cambridge: Cambridge University Press, 2003.