Back to 1
Author @mujirin Verifier - Public Public AI enabled
Log in to access more pages. Guests can read through the introduction. Explorer continues through Chapter 3.
Log in

Pendahuluan

Ekonomi sering terasa seperti kumpulan istilah abstrak: permintaan, penawaran, inflasi, pasar, insentif, biaya peluang, eksternalitas. Kata-kata itu terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, ekonomi dimulai dari hal yang sangat dekat: kita punya banyak keinginan, tetapi waktu, uang, tenaga, dan barang yang tersedia tidak selalu cukup.

Bayangkan seorang siswa memiliki uang saku Rp20.000. Ia ingin membeli minuman, makan siang tambahan, menabung untuk membeli buku, dan membayar fotokopi tugas. Uangnya tidak cukup untuk semua keinginan itu. Maka ia harus memilih. Jika ia membeli minuman mahal, mungkin ia tidak bisa menabung hari itu. Jika ia menabung, mungkin ia harus menahan keinginan membeli jajanan. Di sini ekonomi sudah bekerja, bahkan sebelum ada grafik, rumus, atau istilah teknis.

Buku ini mengajak Anda melihat ekonomi sebagai ilmu tentang pilihan dan konsekuensi.

Mengapa ekonomi ada?

Ekonomi ada karena manusia menghadapi kelangkaan.

Kelangkaan berarti keadaan ketika sesuatu yang kita inginkan lebih banyak daripada jumlah yang tersedia. Kelangkaan tidak selalu berarti “sangat sedikit” atau “hampir habis”. Sesuatu disebut langka jika kita tidak bisa mendapatkannya tanpa mengorbankan hal lain. Uang saku langka karena jumlahnya terbatas. Waktu belajar langka karena satu hari hanya 24 jam. Tenaga langka karena tubuh bisa lelah. Bahkan perhatian juga langka: kita tidak bisa sungguh-sungguh fokus pada terlalu banyak hal sekaligus.

Ekonom Lionel Robbins merumuskan ekonomi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan antara tujuan-tujuan yang banyak dan sumber daya yang terbatas yang memiliki berbagai penggunaan alternatif (Robbins, 1932). Kalimat itu bisa disederhanakan begini: ekonomi mempelajari bagaimana orang memilih ketika tidak semua hal bisa didapat sekaligus.

Contohnya sederhana. Jika Anda punya satu jam kosong, Anda mungkin bisa menggunakannya untuk belajar matematika, bermain gim, tidur, membantu orang tua, atau menonton video. Satu jam yang sama memiliki banyak kemungkinan penggunaan. Karena satu jam itu hanya bisa dipakai sekali, pilihan menjadi penting.

Di sinilah ekonomi mulai terasa nyata. Ekonomi bukan hanya tentang orang kaya, perusahaan besar, bank, atau pemerintah. Ekonomi juga tentang pertanyaan kecil seperti:

  • Apakah saya sebaiknya membeli sekarang atau menabung?
  • Mengapa harga cabai bisa naik?
  • Mengapa diskon membuat orang membeli lebih banyak?
  • Mengapa antrean terjadi ketika barang murah tetapi jumlahnya terbatas?
  • Mengapa polusi dari satu pabrik bisa merugikan orang yang tidak membeli produk pabrik itu?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan kita pelajari perlahan dalam buku ini.

Pilihan selalu berarti ada yang dilepaskan

Jika sumber daya terbatas, maka memilih satu hal biasanya berarti melepaskan hal lain. Ini bukan karena manusia selalu serakah atau salah mengambil keputusan. Ini terjadi karena kenyataan dasar: waktu, uang, tenaga, tanah, mesin, dan bahan baku tidak tak terbatas.

Misalnya, sebuah keluarga memiliki anggaran bulanan. Mereka ingin membeli makanan bergizi, membayar listrik, menabung, memperbaiki motor, dan sesekali rekreasi. Jika biaya perbaikan motor besar, uang untuk rekreasi mungkin harus dikurangi. Jika ingin menabung lebih banyak, belanja yang kurang penting mungkin harus ditunda.

Dalam ekonomi, hal terbaik yang dikorbankan ketika kita memilih sesuatu disebut biaya peluang. Istilah ini akan dibahas khusus di Bab 3, tetapi sejak awal kita perlu mengenal intinya. Biaya sebuah pilihan bukan hanya uang yang dibayar. Biaya juga mencakup kesempatan lain yang hilang.

Jika Anda memilih menonton film selama dua jam, biaya peluangnya mungkin dua jam belajar, dua jam tidur, atau dua jam membantu pekerjaan rumah—tergantung pilihan terbaik lain yang sebenarnya akan Anda lakukan. Jadi, ekonomi mengajarkan kita untuk bertanya, “Kalau saya memilih ini, apa yang saya lepaskan?”

Pertanyaan ini sangat berguna. Ia membuat keputusan lebih sadar.

Insentif: dorongan yang mengubah perilaku

Manusia tidak mengambil keputusan dalam ruang kosong. Kita merespons dorongan. Dalam ekonomi, dorongan yang membuat orang cenderung melakukan atau menghindari sesuatu disebut insentif.

Insentif bisa berupa hadiah, hukuman, harga, diskon, aturan, kebiasaan, rasa nyaman, rasa malu, atau harapan masa depan. Jika kantin memberi potongan harga untuk makanan tertentu, sebagian siswa mungkin lebih tertarik membelinya. Jika sekolah memberi penghargaan untuk kelas paling bersih, siswa mungkin lebih rajin menjaga kebersihan. Jika harga bensin naik, sebagian orang mungkin mengurangi perjalanan yang tidak penting atau mencari transportasi bersama.

Salah satu gagasan dasar dalam buku ekonomi pengantar adalah bahwa orang merespons insentif: ketika manfaat atau biaya suatu tindakan berubah, perilaku orang juga dapat berubah (Mankiw, 2021). Namun, kata “dapat” penting. Tidak semua orang bereaksi dengan cara yang sama. Ada orang yang tetap membeli barang meskipun harganya naik karena barang itu sangat dibutuhkan. Ada juga yang langsung mengurangi pembelian karena anggarannya terbatas.

Contoh sederhana: jika harga es teh naik dari Rp5.000 menjadi Rp10.000, sebagian pembeli mungkin beralih ke air mineral. Tetapi jika harga obat penting naik, orang sakit mungkin tetap membelinya karena sulit mencari pengganti. Dari sini kita akan belajar bahwa reaksi manusia terhadap harga bisa kuat, sedang, atau lemah. Nanti, di Bab 13, kita akan menyebut kekuatan reaksi itu sebagai elastisitas.

Pasar bukan hanya tempat, tetapi proses

Ketika mendengar kata pasar, kita mungkin membayangkan pasar tradisional: ada penjual sayur, pembeli, tawar-menawar, dan barang yang ditata di lapak. Itu benar, tetapi dalam ekonomi, pasar memiliki arti yang lebih luas.

Pasar adalah proses ketika pembeli dan penjual berinteraksi untuk menukar barang atau jasa. Karena itu, pasar bisa terjadi di pasar tradisional, toko kelontong, kantin sekolah, aplikasi belanja online, platform transportasi, atau grup pesan singkat tempat orang menjual makanan.

Di pasar, pembeli membawa pilihan: mereka ingin membeli apa, berapa banyak, dan pada harga berapa. Penjual juga membawa pilihan: mereka ingin menjual apa, berapa banyak, dan pada harga berapa. Ketika pilihan-pilihan itu bertemu, terbentuklah transaksi.

Misalnya, seorang penjual gorengan menetapkan harga Rp2.000 per buah. Pembeli menilai apakah gorengan itu cukup enak, cukup mengenyangkan, dan sesuai dengan uang yang dimiliki. Jika banyak pembeli mau membeli pada harga itu, penjual mungkin terus menjual. Jika pembeli berkurang, penjual mungkin memperbaiki rasa, mengubah ukuran, menurunkan harga, atau menjual barang lain.

Di sini kita mulai melihat peran harga. Harga bukan sekadar angka yang ditempel pada barang. Harga memberi informasi. Harga dapat memberi sinyal bahwa suatu barang sedang banyak dicari, sulit diproduksi, atau tersedia melimpah. Ekonom F. A. Hayek menjelaskan bahwa harga membantu menyampaikan informasi yang tersebar di antara banyak orang, sehingga orang dapat menyesuaikan keputusan mereka tanpa harus mengetahui seluruh keadaan ekonomi secara lengkap (Hayek, 1945).

Contohnya, jika harga payung naik saat musim hujan, pembeli mendapat sinyal bahwa payung sedang lebih dibutuhkan. Penjual mendapat sinyal bahwa menjual payung mungkin lebih menguntungkan. Produsen mendapat sinyal bahwa memproduksi lebih banyak payung mungkin bernilai. Tidak semua orang harus duduk bersama dalam satu rapat besar. Harga membantu mengarahkan keputusan mereka.

Tidak semua akibat berhenti pada pembeli dan penjual

Banyak transaksi hanya terlihat melibatkan dua pihak: pembeli dan penjual. Namun, kadang-kadang keputusan ekonomi berdampak pada orang lain yang tidak ikut dalam transaksi. Dampak seperti ini disebut eksternalitas.

Contoh eksternalitas negatif adalah polusi. Jika sebuah pabrik memproduksi barang dan menjualnya kepada konsumen, transaksi terjadi antara pabrik dan pembeli. Tetapi jika asap pabrik membuat warga sekitar sakit atau udara menjadi kotor, warga itu ikut menanggung akibat meskipun mereka tidak membeli barang tersebut. Dalam ilmu ekonomi kesejahteraan, masalah seperti biaya sosial dari kegiatan ekonomi telah lama menjadi perhatian, salah satunya dalam pembahasan A. C. Pigou tentang dampak kegiatan ekonomi terhadap kesejahteraan masyarakat (Pigou, 1920).

Eksternalitas juga bisa positif. Jika seseorang menanam pohon di halaman rumah, tetangga mungkin ikut menikmati udara yang lebih sejuk. Jika banyak orang divaksinasi terhadap penyakit menular tertentu, penyebaran penyakit dapat berkurang sehingga orang lain ikut mendapat manfaat. Jika seseorang memperoleh pendidikan yang baik, manfaatnya tidak hanya untuk dirinya sendiri; masyarakat juga bisa memperoleh warga yang lebih terampil, produktif, dan mampu berpartisipasi lebih baik.

Konsep eksternalitas penting karena menunjukkan bahwa “pilihan pribadi” kadang memiliki “konsekuensi sosial”. Buku ini akan membantu Anda membedakan keduanya dengan hati-hati.

Cara berpikir ekonomi

Ekonomi tidak mengajarkan bahwa uang adalah segalanya. Ekonomi juga tidak mengatakan bahwa manusia selalu egois atau selalu menghitung semuanya seperti mesin. Dalam kehidupan nyata, manusia punya kasih sayang, kebiasaan, nilai moral, emosi, dan keterbatasan informasi.

Yang diajarkan ekonomi dasar adalah cara bertanya dengan lebih teratur.

Saat menghadapi sebuah masalah, kita dapat bertanya:

Apa yang langka? Siapa yang memilih? Apa saja pilihan yang tersedia? Apa manfaat dari setiap pilihan? Apa biaya yang terlihat dan tidak terlihat? Siapa yang mendapat keuntungan? Siapa yang menanggung kerugian? Insentif apa yang berubah? Apakah ada dampak pada orang lain?

Misalnya, ketika harga beras naik, kita tidak berhenti pada kalimat, “Harga naik karena pedagang menaikkan harga.” Kita belajar bertanya lebih dalam. Apakah panen berkurang? Apakah biaya pupuk naik? Apakah ongkos transportasi meningkat? Apakah permintaan bertambah? Apakah ada gangguan distribusi? Apakah pemerintah membuat aturan tertentu? Siapa yang paling terdampak: petani, pedagang, keluarga miskin, pemilik warung makan, atau konsumen umum?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat ekonomi menjadi alat berpikir, bukan sekadar hafalan istilah.

Apa yang akan Anda pelajari dalam buku ini

Buku ini dimulai dari gagasan paling dasar: kelangkaan. Dari sana kita bergerak ke pilihan, konsekuensi, dan biaya peluang. Setelah itu, kita belajar bagaimana orang membuat keputusan tambahan kecil, misalnya apakah belajar satu jam lagi, membeli satu barang lagi, atau memproduksi satu porsi lagi.

Kemudian kita membahas insentif dan pertukaran. Mengapa orang berdagang? Mengapa seseorang mau menjual sesuatu dan orang lain mau membelinya? Mengapa spesialisasi membuat orang tidak perlu menghasilkan semua barang sendiri?

Setelah itu, kita memasuki pasar. Kita akan mempelajari permintaan dari sisi pembeli dan penawaran dari sisi penjual. Lalu kita melihat bagaimana harga bekerja sebagai sinyal dan bagaimana keseimbangan pasar terbentuk ketika jumlah yang ingin dibeli dan dijual bertemu.

Buku ini juga membahas perubahan pasar. Mengapa harga bisa naik dan turun? Mengapa panen melimpah dapat menurunkan harga buah? Mengapa musim hujan dapat meningkatkan permintaan payung? Mengapa kenaikan harga bahan bakar dapat memengaruhi ongkos kirim?

Di bagian berikutnya, kita menghubungkan ekonomi dengan kehidupan pribadi: uang, pendapatan, anggaran, tabungan, biaya usaha, keuntungan, dan risiko. Lalu kita memperluas pandangan ke persaingan, monopoli, eksternalitas, barang publik, dan peran pemerintah.

Pada bagian akhir, Anda akan diajak membaca masalah ekonomi di dunia nyata. Tujuannya bukan agar Anda langsung menjadi ahli ekonomi, tetapi agar Anda punya alat berpikir yang lebih jernih ketika melihat berita, harga barang, kebijakan, diskon, antrean, kemacetan, atau perubahan kebiasaan belanja.

Sikap belajar yang penting

Saat membaca buku ini, jangan terburu-buru menghafal. Lebih baik pahami perlahan.

Jika ada istilah baru, tanyakan: “Contohnya apa?” Jika ada contoh, tanyakan: “Konsep apa yang sedang ditunjukkan?” Jika ada keputusan ekonomi, tanyakan: “Apa yang dipilih dan apa yang dikorbankan?” Jika ada harga yang berubah, tanyakan: “Insentif siapa yang berubah?”

Ekonomi menjadi lebih mudah ketika setiap istilah dihubungkan dengan pengalaman nyata.

Ketika Anda membeli jajanan, mengatur waktu belajar, memilih transportasi, melihat diskon, menabung, membandingkan harga, atau bertanya mengapa suatu barang langka, Anda sedang berada di wilayah ekonomi. Buku ini hanya memberi nama, urutan, dan alat berpikir untuk hal-hal yang sebenarnya sudah sering Anda alami.

Mari mulai dari dasar pertama: kelangkaan. Karena dari kelangkaanlah pilihan muncul, dan dari pilihanlah konsekuensi mengikuti.

References

Hayek, F. A. 1945. “The Use of Knowledge in Society.” American Economic Review 35 (4): 519–530.

Mankiw, N. Gregory. 2021. Principles of Economics. 9th ed. Boston: Cengage Learning.

Pigou, A. C. 1920. The Economics of Welfare. London: Macmillan.

Robbins, Lionel. 1932. An Essay on the Nature and Significance of Economic Science. London: Macmillan.

τ TheoryTrace