Back to 1
Author @mujirin Verifier - Public Public AI enabled
Log in to access more pages. Guests can read through the introduction. Explorer continues through Chapter 3.
Log in

Pendahuluan

Filsafat sering terasa seperti ruangan yang jauh: penuh istilah besar, nama tokoh asing, dan pertanyaan yang tampaknya tidak ada hubungannya dengan hidup sehari-hari. “Apa itu kebenaran?” “Apakah manusia bebas?” “Apa yang membuat sesuatu adil?” Pertanyaan seperti itu mudah terdengar terlalu tinggi, seolah hanya cocok dibahas di kelas khusus atau buku tebal.

Buku ini dimulai dari arah sebaliknya.

Kita akan mulai dari pilihan biasa: apakah akan berkata jujur meskipun membuat suasana tidak nyaman; apakah akan membagikan berita yang belum jelas sumbernya; apakah akan memaafkan teman yang pernah menyakiti; apakah akan membeli barang karena benar-benar perlu atau karena ingin terlihat berhasil; apakah akan mengikuti aturan meskipun tidak ada yang mengawasi. Dari pilihan seperti ini, pertanyaan filsafat muncul secara alami.

Filsafat dalam buku ini bukan berarti menghafal teori. Filsafat adalah latihan berpikir jernih tentang hal-hal yang penting. Ia bertanya: Apa alasan saya? Apakah alasan itu cukup baik? Apa yang saya ketahui? Siapa saya ketika saya membuat pilihan ini? Apakah saya bebas? Siapa yang terkena akibat pilihan saya? Apakah pilihan ini adil? Orang seperti apa yang sedang saya bentuk melalui tindakan ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu besar, tetapi pintu masuknya kecil. Pintu masuknya adalah hidup kita sendiri.

Mengapa pilihan sehari-hari layak dipikirkan?

Bayangkan seseorang menerima pesan di grup keluarga:

“Minum ramuan tertentu bisa menyembuhkan semua penyakit. Sebarkan agar banyak orang tertolong.”

Ia ingin membantu. Ia juga tidak ingin terlihat tidak peduli. Namun sebelum menekan tombol “bagikan”, ada pertanyaan yang muncul: Dari mana saya tahu ini benar? Pertanyaan itu adalah pertanyaan tentang pengetahuan.

Pengetahuan, secara sederhana, adalah keadaan ketika kita tidak hanya percaya sesuatu, tetapi memiliki alasan yang cukup baik untuk menganggapnya benar. Jika saya percaya bahwa besok hujan hanya karena mimpi, itu berbeda dari percaya bahwa besok hujan karena melihat prakiraan cuaca dari lembaga meteorologi yang dapat diperiksa. Dalam filsafat, cabang yang mempelajari pengetahuan disebut epistemologi. Epistemologi bertanya: apa itu tahu, bagaimana kita tahu, kapan kita boleh percaya, dan kapan kita sebaiknya ragu. Tradisi modern tentang keraguan dan pencarian dasar pengetahuan sering dikaitkan dengan René Descartes, yang dalam Meditations on First Philosophy memakai keraguan sebagai alat untuk memeriksa apa yang benar-benar dapat dipastikan (Descartes, 1996).

Sekarang bayangkan contoh lain. Seorang teman bertanya, “Menurutmu penampilanku jelek?” Kita mungkin tergoda menjawab, “Tidak, bagus kok,” meskipun sebenarnya kita tidak yakin. Kita ingin menjaga perasaannya. Tetapi kita juga tahu bahwa kebohongan bisa merusak kepercayaan. Di sini pertanyaannya bukan hanya “mana yang enak dikatakan?”, melainkan “apa yang seharusnya saya lakukan?” Pertanyaan seperti ini masuk ke wilayah etika.

Etika adalah kajian tentang tindakan yang baik dan buruk, benar dan salah, serta alasan mengapa kita seharusnya bertindak dengan cara tertentu. Etika bukan hanya daftar larangan. Etika juga bertanya: apakah akibat tindakan saya mengurangi penderitaan? Apakah saya menghormati orang lain? Apakah saya sedang menjadi orang yang jujur, berani, atau bijaksana? Dalam sejarah filsafat, John Stuart Mill menekankan pentingnya akibat tindakan bagi kebahagiaan dan penderitaan dalam Utilitarianism (Mill, 2001), sementara Immanuel Kant menekankan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan sekadar alat, dalam Groundwork of the Metaphysics of Morals (Kant, 2012). Dua cara berpikir ini tidak selalu memberikan jawaban yang sama, dan justru dari perbedaan itulah kita belajar berpikir lebih hati-hati.

Contoh ketiga: di kelas, satu kelompok mendapat tugas lebih berat daripada kelompok lain. Sebagian siswa berkata, “Yang penting semua mendapat nilai sama.” Sebagian lain berkata, “Tidak adil kalau usaha berbeda tetapi hasilnya sama.” Ada pula yang berkata, “Teman yang kesulitan seharusnya mendapat bantuan lebih.” Di sini kita sedang membicarakan keadilan.

Keadilan adalah pertanyaan tentang bagaimana manfaat, beban, kesempatan, hukuman, dan hak seharusnya dibagikan. Apakah adil berarti semua orang diperlakukan sama? Atau adil berarti setiap orang diperlakukan sesuai kebutuhan, usaha, kemampuan, dan keadaan yang relevan? John Rawls, dalam A Theory of Justice, mengembangkan gagasan keadilan sebagai kewajaran, yaitu cara berpikir tentang prinsip-prinsip sosial yang dapat diterima secara adil oleh orang-orang yang tidak tahu posisi mereka sendiri dalam masyarakat (Rawls, 1999). Kita tidak perlu langsung menguasai seluruh teorinya, tetapi contoh itu menunjukkan bahwa pertanyaan “adil atau tidak?” jauh lebih dalam daripada sekadar “saya suka atau tidak suka.”

Filsafat dimulai ketika kita meminta alasan

Salah satu kata terpenting dalam buku ini adalah alasan.

Alasan adalah sesuatu yang mendukung sebuah keyakinan atau tindakan. Jika saya berkata, “Saya tidak akan membagikan berita ini karena belum jelas sumbernya,” bagian “karena belum jelas sumbernya” adalah alasan. Jika saya berkata, “Saya meminta maaf karena kata-kata saya menyakiti teman saya,” bagian “karena kata-kata saya menyakiti teman saya” adalah alasan.

Tidak semua alasan sama kuat. “Saya percaya berita itu karena banyak yang membagikan” belum tentu kuat, sebab sesuatu bisa populer tetapi salah. “Saya percaya berita itu karena ada data resmi, sumbernya jelas, dan dapat diperiksa oleh pihak lain” biasanya lebih kuat. Salah satu latihan utama dalam filsafat adalah membedakan alasan yang baik dari alasan yang lemah.

Ketika alasan disusun untuk mendukung suatu kesimpulan, kita menyebutnya argumen. Dalam percakapan sehari-hari, kata “argumen” sering berarti pertengkaran. Dalam filsafat, argumen bukan pertengkaran. Argumen adalah susunan pikiran: ada alasan, lalu ada kesimpulan.

Contohnya:

Berita ini tidak mencantumkan sumber yang jelas.
Klaimnya sangat besar, yaitu menyembuhkan semua penyakit.
Klaim besar memerlukan bukti yang kuat.
Jadi, saya sebaiknya tidak membagikan berita ini sebelum memeriksanya.

Itu argumen. Kita bisa menilai apakah alasannya benar, apakah hubungan antara alasan dan kesimpulan masuk akal, dan apakah ada informasi yang kurang.

Filsafat menjadi konkret ketika kita menyadari bahwa hampir setiap pilihan penting memuat argumen tersembunyi. Kadang argumen itu rapi. Kadang kacau. Kadang kita bahkan belum menyadari bahwa kita sedang memakai alasan tertentu. Buku ini membantu kita memperlambat pikiran, membuka alasan yang tersembunyi, lalu memeriksanya.

Abstrak bukan berarti jauh dari hidup

Salah satu penyebab filsafat terasa sulit adalah karena ia memakai konsep yang abstrak. Abstrak berarti tidak menunjuk langsung pada satu benda yang bisa dipegang, melainkan pada pola, hubungan, atau makna yang berlaku dalam banyak keadaan.

“Kursi” cukup konkret: kita bisa menunjuk benda tertentu. “Keadilan” lebih abstrak: kita tidak bisa menunjuk satu benda bernama keadilan, tetapi kita bisa melihat contoh tindakan yang adil atau tidak adil. “Kebebasan” juga abstrak: kita tidak memegang kebebasan seperti memegang gelas, tetapi kita mengalami perbedaannya ketika memilih karena sadar dan ketika memilih karena dipaksa.

Abstraksi bukan musuh pemula. Abstraksi adalah cara melihat pola di balik banyak contoh. Misalnya, dari contoh menyontek, berbohong, dan mengingkari janji, kita mulai melihat pola tentang kejujuran. Dari contoh pembagian tugas, hukuman, dan kesempatan, kita mulai melihat pola tentang keadilan. Dari contoh kebiasaan, iklan, tekanan teman, dan algoritma media sosial, kita mulai melihat pola tentang kebebasan.

Jadi, buku ini tidak akan menghindari ide besar. Namun setiap ide besar akan didekati melalui pengalaman biasa. Kita akan naik perlahan: dari contoh, menuju istilah, lalu menuju pertanyaan yang lebih dalam.

Enam tema besar buku ini

Ada beberapa tema yang akan terus kembali sepanjang buku ini.

Pertama, pengetahuan. Kita akan bertanya bagaimana kita tahu sesuatu. Apakah melihat langsung selalu cukup? Apakah ingatan bisa dipercaya? Bagaimana menilai kesaksian orang lain? Mengapa kita bisa yakin pada hal tertentu, tetapi perlu ragu pada hal lain?

Kedua, diri atau identitas. Identitas berarti jawaban atas pertanyaan “siapa saya?” Jawaban itu tidak sesederhana nama di kartu identitas. Tubuh kita berubah, selera berubah, teman berubah, cita-cita berubah. Namun kita tetap merasa ada kesinambungan: “ini aku.” Buku ini akan mengajak pembaca memikirkan bagaimana ingatan, kebiasaan, tubuh, peran sosial, dan pilihan membentuk rasa diri.

Ketiga, kebebasan. Kebebasan bukan hanya “boleh melakukan apa saja.” Kita akan membedakan pilihan yang sadar dari pilihan yang terbentuk oleh tekanan, kebiasaan, iklan, algoritma, atau keadaan ekonomi. Seseorang bisa tampak memilih, tetapi pilihannya sangat sempit. Sebaliknya, aturan tertentu kadang justru melindungi kebebasan bersama.

Keempat, tanggung jawab. Jika seseorang melakukan kesalahan, kapan ia pantas disalahkan? Apakah niat baik cukup untuk membebaskan seseorang dari tanggung jawab? Bagaimana jika akibat buruk tidak disengaja? Tanggung jawab menghubungkan kebebasan dengan akibat. Kita tidak bisa menilai orang secara adil jika tidak memperhatikan niat, pengetahuan, keadaan, dan dampak tindakannya.

Kelima, etika. Etika akan membantu kita menilai tindakan sehari-hari: menyontek, berbohong, menjaga rahasia, menepati janji, membantu orang asing, atau menolak ikut mengejek. Kita akan mempelajari tiga pendekatan besar: melihat akibat, menghormati prinsip, dan membentuk karakter. Aristoteles, misalnya, menekankan bahwa kehidupan yang baik berkaitan dengan pembentukan kebiasaan dan kebajikan, bukan hanya keputusan sesaat (Aristotle, 2000).

Keenam, keadilan. Hidup bersama selalu memerlukan pembagian: siapa mendapat apa, siapa menanggung beban apa, siapa diberi kesempatan, siapa diberi sanksi, dan mengapa. Keadilan menjadi sulit karena nilai-nilai baik sering bertabrakan. Kesetaraan penting, tetapi kebutuhan juga penting. Usaha penting, tetapi keberuntungan dan hambatan hidup juga nyata. Karena itu, berpikir adil memerlukan lebih dari sekadar reaksi cepat.

Filsafat tidak selalu memberi jawaban cepat

Buku ini tidak menjanjikan bahwa setiap dilema akan punya jawaban mudah. Filsafat yang baik sering tidak langsung membuat hidup lebih sederhana. Kadang ia justru membuat kita sadar bahwa masalah yang tampak sederhana memiliki banyak sisi.

Namun itu bukan kegagalan. Itu bagian dari kedewasaan berpikir.

Ketika kita bertanya, “Apakah saya harus selalu jujur?”, kita mungkin menemukan bahwa kejujuran sangat penting, tetapi cara menyampaikan kebenaran juga penting. Ketika kita bertanya, “Apakah setiap orang harus diperlakukan sama?”, kita mungkin menemukan bahwa perlakuan sama kadang adil, tetapi kadang mengabaikan kebutuhan yang berbeda. Ketika kita bertanya, “Apakah saya bebas memilih?”, kita mungkin menemukan bahwa kebebasan bukan keadaan hitam-putih, melainkan bisa lebih luas atau lebih sempit tergantung pengetahuan, tekanan, kebiasaan, dan pilihan yang tersedia.

Dalam dialog Apology, Socrates digambarkan mempertahankan pentingnya hidup yang diperiksa, yaitu hidup yang tidak hanya mengikuti kebiasaan tanpa bertanya (Plato, 1997). Semangat itu penting bagi buku ini. Memeriksa hidup bukan berarti terus-menerus curiga pada semua hal. Memeriksa hidup berarti tidak menyerahkan pikiran sepenuhnya kepada kebiasaan, emosi sesaat, tekanan kelompok, atau suara paling keras di sekitar kita.

Cara berpikir yang akan kita latih

Sepanjang buku ini, kita akan melatih satu kebiasaan sederhana: berhenti sejenak sebelum menilai.

Berhenti sejenak bukan berarti ragu selamanya. Berhenti sejenak berarti memberi ruang bagi pertanyaan yang lebih baik. Misalnya:

Apa sebenarnya masalahnya?
Fakta apa yang sudah saya tahu, dan apa yang belum?
Siapa yang terkena akibat keputusan ini?
Nilai apa yang sedang bertabrakan?
Apakah saya sedang dipengaruhi rasa takut, marah, gengsi, atau ingin diterima?
Jika semua orang melakukan hal yang sama, apa akibatnya?
Apakah saya memperlakukan orang lain dengan hormat?
Orang seperti apa yang sedang saya latih dalam diri saya melalui pilihan ini?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak membuat kita sempurna. Tetapi pertanyaan itu membuat kita lebih sadar. Dan kesadaran adalah awal dari kebijaksanaan praktis.

Kebijaksanaan praktis berarti kemampuan menilai apa yang baik dilakukan dalam keadaan konkret. Bukan hanya tahu teori, tetapi mampu melihat situasi, memahami orang yang terlibat, mempertimbangkan akibat, menghormati prinsip, dan memilih dengan lebih matang. Dalam kehidupan nyata, kita jarang mengambil keputusan dengan informasi lengkap. Karena itu, tujuan buku ini bukan membuat pembaca selalu pasti, melainkan membantu pembaca lebih jujur terhadap alasan, lebih peka terhadap nilai, dan lebih bertanggung jawab terhadap pilihan.

Undangan untuk membaca dengan hidup sendiri

Saat membaca buku ini, jangan hanya bertanya, “Apa kata filsuf?” Tanyakan juga, “Kapan saya pernah mengalami ini?” Jika bab membahas pengetahuan, ingatlah saat Anda hampir percaya pada berita palsu. Jika bab membahas identitas, ingatlah saat Anda merasa berubah tetapi tetap menjadi diri sendiri. Jika bab membahas kebebasan, ingatlah saat Anda memilih sesuatu karena benar-benar ingin, dan saat Anda memilih karena takut tidak diterima. Jika bab membahas keadilan, ingatlah saat Anda merasa diperlakukan tidak adil, atau saat Anda mungkin tanpa sadar memperlakukan orang lain secara tidak adil.

Filsafat menjadi hidup ketika ia bertemu pengalaman.

Buku ini akan berjalan dari dasar berpikir kritis, lalu masuk ke pengetahuan, diri, kebebasan, tanggung jawab, etika, keadilan, perbedaan, teknologi, uang, dan akhirnya cara membuat keputusan yang lebih bijaksana. Urutannya sengaja disusun agar pembaca tidak langsung dilempar ke teori besar. Kita akan membangun alat berpikir sedikit demi sedikit.

Anda tidak perlu menjadi ahli untuk mulai berfilsafat. Anda hanya perlu bersedia bertanya dengan jujur, mendengar alasan dengan sabar, dan memperbaiki pendapat ketika alasan yang lebih baik muncul.

Pada akhirnya, filsafat dalam buku ini bukan pelarian dari kehidupan sehari-hari. Filsafat adalah cara kembali ke kehidupan sehari-hari dengan mata yang lebih terbuka.

References

Aristotle. (2000). Nicomachean Ethics (R. Crisp, Trans.). Cambridge University Press.

Descartes, R. (1996). Meditations on First Philosophy: With Selections from the Objections and Replies (J. Cottingham, Trans.). Cambridge University Press.

Kant, I. (2012). Groundwork of the Metaphysics of Morals (M. Gregor & J. Timmermann, Trans. & Eds.). Cambridge University Press.

Mill, J. S. (2001). Utilitarianism (2nd ed., G. Sher, Ed.). Hackett Publishing.

Plato. (1997). Apology. In J. M. Cooper (Ed.), Plato: Complete Works. Hackett Publishing.

Rawls, J. (1999). A Theory of Justice (Rev. ed.). Harvard University Press.

τ TheoryTrace