Pendahuluan
Merantau untuk kuliah sering terlihat sederhana dari luar: pindah kota, masuk kelas, mengerjakan tugas, lalu pulang ke kos. Namun setelah dijalani, kehidupan mahasiswa perantau ternyata terdiri dari banyak keputusan kecil yang harus dibuat sendiri. Jam berapa bangun. Makan apa hari ini. Uang sisa berapa. Baju dicuci kapan. Tugas dikumpulkan bagaimana. Kalau sakit harus menghubungi siapa. Kalau rindu rumah harus bercerita ke siapa. Kalau ada ajakan teman yang kurang cocok, bagaimana menolaknya tanpa merusak hubungan.
Buku ini ditulis untuk membantu Anda menghadapi keputusan-keputusan kecil itu dengan lebih tenang.
Kemandirian dalam buku ini tidak berarti “melakukan semua hal sendirian tanpa bantuan siapa pun”. Itu pengertian yang terlalu keras dan tidak realistis. Mandiri berarti mampu mengenali kebutuhan sendiri, membuat rencana yang masuk akal, menjalankan kebiasaan dasar, dan tahu kapan harus meminta bantuan. Seorang mahasiswa yang mandiri bukan mahasiswa yang tidak pernah bingung, tidak pernah sakit, atau tidak pernah kehabisan energi. Mahasiswa yang mandiri adalah mahasiswa yang belajar membangun sistem agar hidupnya tidak selalu bergantung pada keadaan darurat.
Bayangkan dua mahasiswa baru di kota yang sama.
Mahasiswa pertama menjalani hari dengan cara “mengalir saja”. Ia bangun ketika sempat, mencuci pakaian ketika sudah habis, mengerjakan tugas ketika tenggat sudah dekat, dan mengecek uang ketika dompet mulai kosong. Cara ini mungkin berjalan selama beberapa hari. Namun ketika tugas menumpuk, badan lelah, kamar berantakan, dan uang menipis, semua masalah kecil bertemu di waktu yang sama.
Mahasiswa kedua juga tidak sempurna. Ia kadang terlambat, kadang malas, kadang rindu rumah. Bedanya, ia punya beberapa pegangan: jadwal mingguan yang sederhana, catatan pengeluaran, daftar kontak darurat, rutinitas mencuci, dan kebiasaan memberi kabar kepada keluarga. Ketika ada masalah, ia tidak mulai dari nol. Ia punya sistem kecil yang membantunya kembali stabil.
Buku ini ingin membantu Anda menjadi mahasiswa kedua.
Hidup mandiri adalah keterampilan, bukan bakat
Banyak orang merasa bersalah ketika belum rapi, belum hemat, belum pandai mengatur waktu, atau belum berani mengurus masalah sendiri. Padahal, sebagian besar kecakapan hidup memang perlu dipelajari. Tidak semua orang datang dari rumah dengan pengalaman memasak, membuat anggaran, membersihkan kamar mandi, memahami layanan kesehatan, atau menolak tekanan sosial. Jika Anda belum bisa, itu bukan tanda gagal. Itu tanda ada keterampilan yang perlu dilatih.
Kecakapan hidup adalah kemampuan praktis untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih aman, sehat, teratur, dan bertanggung jawab. Dalam konteks mahasiswa perantau, kecakapan hidup mencakup hal-hal yang sangat konkret: mengatur waktu belajar, menjaga tidur, mengelola uang bulanan, merawat tempat tinggal, menjaga keamanan diri, membangun pertemanan sehat, dan berkomunikasi dengan keluarga.
Peralihan dari sekolah ke perguruan tinggi memang menuntut penyesuaian. Penelitian tentang penyesuaian mahasiswa menunjukkan bahwa kehidupan kuliah bukan hanya soal akademik, tetapi juga penyesuaian sosial, personal-emosional, dan keterikatan dengan institusi kampus (Credé & Niehorster, 2012). Dengan kata lain, nilai kuliah penting, tetapi hidup mahasiswa tidak hanya dibentuk oleh nilai. Cara Anda tidur, makan, berteman, mengelola stres, dan meminta bantuan juga ikut memengaruhi keberhasilan Anda menjalani masa kuliah.
Contohnya sederhana. Jika Anda punya ujian minggu depan tetapi tidur hanya sedikit, makan tidak teratur, dan tidak tahu cara belajar yang efektif, masalahnya bukan semata-mata “kurang niat”. Sistem hidup Anda sedang tidak mendukung tujuan akademik Anda. Sebaliknya, jika Anda punya jadwal belajar yang realistis, waktu tidur yang cukup, makanan yang cukup bergizi, dan teman diskusi yang bisa dihubungi, belajar menjadi lebih mungkin dilakukan.
Sistem hidup: pegangan kecil agar tidak mudah kewalahan
Istilah penting dalam buku ini adalah sistem hidup. Sistem adalah kumpulan bagian yang saling terhubung dan bekerja bersama. Sistem hidup berarti cara Anda mengatur bagian-bagian utama kehidupan sehari-hari agar saling mendukung, bukan saling merusak.
Misalnya, jadwal tidur memengaruhi energi. Energi memengaruhi fokus belajar. Fokus belajar memengaruhi kualitas tugas. Kualitas tugas memengaruhi stres. Stres memengaruhi cara Anda makan, bergaul, dan berkomunikasi. Jadi, ketika satu bagian berantakan, bagian lain bisa ikut terdampak. Sebaliknya, ketika satu kebiasaan dasar membaik, bagian lain sering menjadi lebih mudah.
Contoh sistem hidup yang sederhana:
- Anda menetapkan hari Minggu sore untuk mencuci pakaian.
- Anda mencatat pengeluaran setiap malam selama dua menit.
- Anda menyiapkan tas kuliah sebelum tidur.
- Anda memberi kabar kepada keluarga dua atau tiga kali seminggu.
- Anda menyimpan nomor penting di ponsel dan di kertas kecil di dompet.
- Anda menyisihkan satu blok waktu khusus untuk membaca materi kuliah.
Perhatikan bahwa sistem hidup tidak harus rumit. Sistem yang terlalu rumit justru mudah ditinggalkan. Mahasiswa perantau membutuhkan sistem yang cukup sederhana untuk dijalankan ketika lelah, tetapi cukup kuat untuk mencegah masalah besar.
Dalam buku ini, Anda tidak akan diminta menjadi orang yang sempurna. Anda akan diajak membangun pegangan kecil yang bisa diulang. Kemandirian tumbuh dari pengulangan, bukan dari semangat sesaat.
Lima bidang yang akan sering bertemu
Ada lima bidang besar yang akan terus muncul sepanjang buku ini: waktu, uang, rumah, keamanan, dan relasi.
Waktu adalah cara Anda menggunakan jam dan hari. Mengatur waktu bukan berarti mengisi semua jam dengan kegiatan produktif. Mengatur waktu berarti memberi tempat yang wajar untuk kuliah, belajar, makan, tidur, mencuci, beristirahat, beribadah atau berefleksi, berorganisasi, dan bertemu orang lain. Misalnya, jadwal yang hanya berisi kelas dan belajar tetapi tidak memberi ruang untuk tidur akan terlihat rajin di atas kertas, tetapi rapuh dalam praktik. Rekomendasi konsensus untuk orang dewasa menyatakan bahwa orang dewasa sebaiknya tidur tujuh jam atau lebih per malam secara teratur untuk mendukung kesehatan yang optimal (Watson et al., 2015). Artinya, tidur bukan hadiah setelah semua pekerjaan selesai; tidur adalah bagian dari sistem belajar.
Uang adalah alat untuk memenuhi kebutuhan, bukan sekadar angka di rekening. Mengelola uang berarti mengetahui pemasukan, biaya tetap, biaya harian, batas pengeluaran, dan cadangan untuk keadaan tidak terduga. Contohnya, jika uang bulanan Anda terlihat cukup pada tanggal 1 tetapi tidak dibagi untuk kos, makan, transportasi, pulsa, dan kebutuhan kuliah, Anda bisa merasa aman di awal bulan lalu panik di akhir bulan. Buku ini akan membantu Anda membuat anggaran yang sederhana dan jujur.
Rumah dalam buku ini berarti tempat tinggal Anda di perantauan: kos, kontrakan, asrama, atau tempat menumpang sementara. Rumah yang baik bukan harus mewah. Rumah yang baik adalah tempat yang cukup aman, cukup bersih, cukup sehat, dan cukup mendukung belajar. Contohnya, meja kecil yang rapi, sirkulasi udara yang baik, tempat sampah yang rutin dikosongkan, dan pakaian yang tidak menumpuk bisa membuat hidup terasa lebih ringan.
Keamanan berarti usaha mengurangi risiko terhadap diri, barang, data pribadi, dan kondisi darurat. Keamanan bukan berarti hidup dalam ketakutan. Keamanan berarti sadar situasi. Misalnya, Anda memilih rute pulang yang lebih terang pada malam hari, tidak membagikan kode OTP kepada siapa pun, mengunci pintu kamar, menyimpan salinan dokumen penting, dan tahu nomor yang harus dihubungi ketika terjadi masalah.
Relasi adalah hubungan dengan orang lain: keluarga, teman kos, teman kelas, dosen, senior, tetangga, komunitas, dan layanan kampus. Merantau tidak berarti memutus hubungan. Justru, jaringan dukungan dapat membantu seseorang menghadapi tekanan. Dalam psikologi kesehatan, dukungan sosial dikenal dapat membantu mengurangi dampak buruk stres, terutama ketika seseorang menghadapi situasi yang menekan (Cohen & Wills, 1985). Contohnya, teman yang bisa menemani ke klinik, dosen wali yang memberi arahan akademik, atau keluarga yang mau mendengar tanpa langsung menghakimi dapat menjadi bagian penting dari keselamatan hidup Anda.
Kelima bidang ini saling terhubung. Uang yang tidak terencana bisa membuat makan terganggu. Makan yang terganggu bisa membuat energi turun. Energi turun bisa membuat tugas tertunda. Tugas tertunda bisa memicu stres. Stres bisa membuat komunikasi dengan keluarga menjadi kasar atau menghindar. Karena itu, buku ini tidak membahas kehidupan mahasiswa secara terpisah-pisah, tetapi sebagai satu rangkaian kebiasaan.
Buku ini praktis, tetapi bukan jalan pintas
Buku ini bersifat praktis. Artinya, setiap bab akan berusaha menjawab pertanyaan “apa yang bisa saya lakukan?” Namun praktis tidak sama dengan instan. Anda mungkin tidak langsung berhasil membuat jadwal yang cocok. Anda mungkin mencatat pengeluaran selama tiga hari lalu lupa. Anda mungkin mencoba memasak hemat tetapi hasilnya kurang enak. Itu semua bagian dari proses.
Cara belajar yang disarankan adalah mencoba, meninjau, lalu memperbaiki.
Misalnya, ketika membuat jadwal mingguan, jangan bertanya, “Bagaimana jadwal sempurna untuk saya?” Pertanyaan itu terlalu berat. Tanyakan, “Jadwal seperti apa yang cukup baik untuk dicoba minggu ini?” Setelah satu minggu, lihat hasilnya. Apakah waktu belajar terlalu malam? Apakah waktu mencuci sering bentrok dengan organisasi? Apakah Anda lupa makan siang? Dari situ jadwal diperbaiki.
Begitu juga dengan anggaran. Jangan menunggu sampai bisa membuat perencanaan keuangan yang sangat rapi. Mulailah dari tiga angka: pemasukan, pengeluaran wajib, dan sisa uang untuk kebutuhan harian. Jika Anda tahu tiga angka itu, Anda sudah lebih siap daripada ketika hanya mengandalkan perasaan.
Kemandirian tumbuh melalui siklus sederhana:
- menyadari kondisi,
- membuat rencana kecil,
- menjalankan sebisanya,
- melihat hasil,
- memperbaiki langkah berikutnya.
Siklus ini akan muncul berkali-kali dalam buku, terutama pada bab terakhir ketika Anda belajar meninjau dan memperbaiki sistem hidup sendiri.
Perantauan bukan hanya ujian, tetapi ruang tumbuh
Merantau dapat terasa menakutkan karena banyak hal tidak lagi otomatis disediakan. Di rumah, mungkin ada orang yang mengingatkan makan, membangunkan pagi, mencuci bersama, atau membantu ketika sakit. Di perantauan, banyak hal harus Anda sadari sendiri. Namun di sisi lain, perantauan memberi ruang untuk mengenal diri.
Anda akan belajar pola energi Anda: apakah Anda lebih fokus pagi atau malam. Anda akan belajar batas sosial Anda: ajakan mana yang baik, mana yang perlu ditolak. Anda akan belajar hubungan dengan uang: apakah Anda mudah tergoda belanja kecil, atau terlalu takut mengeluarkan uang bahkan untuk kebutuhan penting. Anda akan belajar cara meminta bantuan tanpa merasa malu. Anda juga akan belajar bahwa menjadi dewasa bukan berarti selalu kuat, tetapi semakin mampu bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri.
Contohnya, saat pertama kali sakit sendirian di kos, Anda mungkin panik. Namun setelah belajar menyimpan obat dasar yang aman, mengetahui klinik terdekat, menyimpan kartu kesehatan, dan memberi kabar kepada teman tepercaya, pengalaman berikutnya tidak lagi terasa sama menakutkannya. Anda tidak menjadi kebal terhadap masalah, tetapi menjadi lebih siap.
Itulah inti buku ini: bukan menghapus semua kesulitan, melainkan membuat Anda lebih siap menghadapinya.
Cara menggunakan buku ini dalam kehidupan nyata
Bacalah buku ini dengan membawa kehidupan Anda sendiri ke dalam bacaan. Ketika membaca bab tentang jadwal, buka kalender Anda. Ketika membaca bab tentang uang, lihat catatan transaksi Anda. Ketika membaca bab tentang kamar kos, lihat kamar Anda. Ketika membaca bab tentang keluarga, pikirkan pola komunikasi yang selama ini terjadi.
Setiap bab sebaiknya menghasilkan satu tindakan kecil. Jangan menunggu semua bab selesai untuk mulai berubah. Setelah Bab 1, Anda bisa menulis tiga tanggung jawab baru yang paling penting. Setelah Bab 3, Anda bisa membuat jadwal satu minggu. Setelah Bab 6, Anda bisa menghitung biaya tetap. Setelah Bab 12, Anda bisa menyimpan kontak darurat. Setelah Bab 15, Anda bisa mengatur waktu rutin memberi kabar kepada keluarga.
Tindakan kecil lebih kuat daripada niat besar yang tidak pernah dimulai.
Jika suatu bagian terasa terlalu sederhana, jangan buru-buru melewatinya. Dalam hidup mandiri, hal sederhana sering menjadi penyelamat. Mengunci pintu. Makan sebelum terlalu lapar. Menyimpan bukti pembayaran. Mencuci sebelum pakaian habis. Mengabari keluarga sebelum mereka cemas. Tidur sebelum tubuh tumbang. Hal-hal ini tidak terlihat dramatis, tetapi membentuk dasar kehidupan yang stabil.
Jika suatu bagian terasa sulit, jangan menganggap diri Anda gagal. Tandai, pelajari lagi, tanyakan kepada orang yang tepat, atau coba versi yang lebih kecil. Misalnya, jika memasak setiap hari terasa berat, mulai dari memasak nasi sendiri dan membeli lauk. Jika mencatat semua pengeluaran terasa melelahkan, mulai dari mencatat pengeluaran makanan saja. Jika menelepon keluarga terlalu emosional, mulai dari pesan singkat yang jujur dan teratur.
Bekal awal sebelum masuk Bab 1
Sebelum melanjutkan, ada satu sikap dasar yang perlu dipegang: hidup mandiri tidak dibangun dengan menyalahkan diri, tetapi dengan mengamati diri.
Menyalahkan diri berbunyi, “Aku memang tidak bisa mengatur hidup.” Mengamati diri berbunyi, “Bagian mana yang belum punya sistem?” Menyalahkan diri membuat Anda berhenti. Mengamati diri membuat Anda bisa memperbaiki.
Jika kamar berantakan, pertanyaannya bukan “Mengapa aku malas sekali?” Pertanyaannya bisa menjadi, “Apakah aku punya tempat untuk barang kotor, barang bersih, buku kuliah, dan sampah?” Jika uang cepat habis, pertanyaannya bukan “Mengapa aku boros sekali?” Pertanyaannya bisa menjadi, “Pengeluaran apa yang paling sering tidak kusadari?” Jika tugas sering terlambat, pertanyaannya bukan “Mengapa aku bodoh?” Pertanyaannya bisa menjadi, “Kapan aku mulai mengerjakan tugas, dan apa penghalang pertamanya?”
Pertanyaan yang baik membuka jalan. Buku ini akan membantu Anda membangun pertanyaan yang baik, lalu mengubahnya menjadi kebiasaan yang bisa dijalankan.
Anda tidak harus langsung menjadi ahli mengatur hidup. Anda hanya perlu mulai membangun satu pegangan, lalu pegangan berikutnya. Dari sanalah kemandirian tumbuh: pelan, nyata, dan semakin kuat.
Mari mulai dengan Bab 1: memetakan hidup sebagai mahasiswa perantau.
References
Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis. Psychological Bulletin, 98(2), 310–357. https://doi.org/10.1037/0033-2909.98.2.310
Credé, M., & Niehorster, S. (2012). Adjustment to college as measured by the Student Adaptation to College Questionnaire: A quantitative review. Educational Psychology Review, 24, 133–165. https://doi.org/10.1007/s10648-011-9184-5
Watson, N. F., Badr, M. S., Belenky, G., Bliwise, D. L., Buxton, O. M., Buysse, D., Dinges, D. F., Gangwisch, J., Grandner, M. A., Kushida, C., Malhotra, R. K., Martin, J. L., Patel, S. R., Quan, S. F., & Tasali, E. (2015). Recommended amount of sleep for a healthy adult: A joint consensus statement of the American Academy of Sleep Medicine and Sleep Research Society. Journal of Clinical Sleep Medicine, 11(6), 591–592. https://doi.org/10.5664/jcsm.4758